Between Words | Devs

Berbicara tentang buku. 

Sekilas tentang Novel Angin Bersyair

Judul : Angin Bersyair

Penulis : Andrei Aksana

Jumlah halaman : 216 halaman

Tahun terbit : 2014

ISBN : 978-602-03-1158-6

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Angin Bersyair

 

Cover buku ini cantik banget. Warnanya lembut dan ilustrasinya sangat indah. Perpaduan lembah, bunga, awan, dan layang-layang sangat pas untuk menggambarkan keindahan dan ketenangan Bali.

Ini fotonya:

Angin Bersyair


BLURB

Berbekal secarik kertas aku berangkat. Dituliskan begitu tergesa oleh Kiev, arsitek yang menjadi kekasihku, di atas selembar kertas yang sembarang dirobek. Alamat tanpa nama jalan dan nomor, membawaku menjelajahi Ubud.

Di sanalah aku memulai titik nol. Membaca isyarat-isyarat alam yang disampaikan sawah, sungai, lembah. Mempertemukan dengan Raka, dosen seni dan pelukis, dan Nawang, dunia yang diam, yang memperkenalkanku kepada angin.

Jawaban yang kucari malah menuntunku menemukan kertas-kertas yang lain. rahasia-rahasia, yang dikisahkan angin...


Blurbnya aja menyentuh, gimana isinya? 

Itulah yang terlintas di kepalaku saat pertama kali melihat novel ini. Dan karena itu pula akhirnya aku memutuskan untuk menjadikannya milikku.

Novel ini menceritakan perjalanan Sukma dalam mencari sebuah tempat yang dimaksud oleh kekasihnya. Sayangnya, ia sudah tersesat sejak pertama kali membaca alamat itu. perjalanannya menjadi sebuah perjalanan yang bahkan ia sendiri tidak yakin tempat apa yang sebenarnya akan ia tuju, sampai akhirnya ia bertemu dengan Raka, lelaki yang mengenalkannya pada hal-hal baru. Bersama Raka, ia merasa menemukan dirinya, sekaligus menyadari bahwa ia bukan siapa-siapa. 

Konfliknya menurutku tidak terlalu wah, tapi tetap menggugah. Alurnya cukup lambat, sehingga saat pertama kali membacanya aku sempat merasa bosan, tapi awal dan akhir ceritanya menurutku sangat menarik. Bahkan aku sampai membaca novel ini berulang-ulang.

Secara keseluruhan aku menyukai novel sastra ini. Gaya penulisan Andrei Aksana yang puitis membuatku hanyut dalam setiap untaian kata yang dirangkainya. Penjelasan mengenai bentuk bangunan rumah, letak suatu tempat, dan budaya Bali ditulis dengan sangat rinci. Dan endingnya sukses membuatku galau berkepanjangan. Walaupun sejujurnya aku lebih menyukai gaya penulisannya dibandingkan dengan ceritanya, tapi ending ini ternyata mampu menimbulkan rasa sedih dan hampa yang luar biasa.

Selain itu, ada satu hal yang menarik perhatianku, Nawang. Yap, sosok Nawang ini lebih menyita perhatianku daripada Sukma, tokoh utamanya. Menurutku Nawang adalah sosok yang sangat tenang, namun memiliki banyak sisi mengagumkan. Di sini diceritakan bahwa Nawang memiliki pemahaman yang mendalam tentang sastra dan budaya. Nawang juga merupakan sosok yang penuh dengan rahasia-rahasia. 

Novel ini juga menjadi salah satu buku yang membuatku jatuh cinta pada cerita-cerita dan dunia sastra. Entah kenapa, aku seperti menemukan diriku ketika membaca novel ini. 


Beberapa quotes dari novel Angin Bersyair:

“Aku hanya bisa percaya, pada sesuatu yang tak pernah kulihat dan kudengar, bahkan kalaupun sesuatu itu tidak pernah ada.” 

–hal 10

“Perjalanan adalah memutuskan mata rantai masa silam.”

 –hal 11

“Rindu tak bersuara, tetapi memanggilmu untuk mencari.”

 –hal 17

“Perjalanan bukan lagi untuk menemukan tempat. Perjalanan bukan lagi untuk menuju. Perjalanan adalah caramu percaya. Semakin jauh, kamu semakin percaya.”

 –hal 59

“Jika keberanian adalah mengalahkan dirimu sendiri, kapankah harus dimulai? Bukan untuk membuktikan kekuatan, hanya mencoba sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan.” 

–hal 61

“Bukan kehilangan yang membuatmu bersedih, tetapi mengembalikan semua yang sebetulnya tidak pernah kamu miliki.” 

–hal 62

“Yang mesti kaulakukan di tengah kegelisahan adalah sepenuhnya mengumpullkan waktu untuk betul-betul bertanya kepada dirimu sendiri, dan kau tak perlu lagi menemukan jawaban.” 

–hal 147-148

“Tidak ada hadiah yang lebih bernilai dari memperoleh kembali sesuatu yang sempat hilang. Bahagia. Tak bisa ditukar dengan apapun.”

 –hal 170 

“Jika memiliki adalah melepaskan, aku telah melakukannya. Meninggalkanmu tak membuat waktu ikut pergi. Karena ternyata aku berhenti di sini, di kurun masa ini, tetap mengenangmu.”

 –hal 203


Masih banyak lagi kata-kata indah di novel ini, tapi tidak mungkin kutulis semua. 

Buku ini direkomendasikan untuk kalian yang tertarik dengan sastra dan kalian para penyuka kata-kata. Buku ini benar-benar penuh makna, setiap kalimatnya sangat bernyawa. Indah sekali pokoknya!


Rate: 4.5/5


Bahas Bahasa Cinta


Bahasa Cinta


Kamu pernah gak sih merasa gak dimengerti? Atau... merasa gak bisa mengerti seseorang? 

Hmmm, itu bukan salah kamu, bukan juga salah seseorang yang tidak bisa mengerti kamu. Itu semua terjadi karena bahasa cinta kalian yang berbeda. 

Bahasa cinta?

Yap, bahasa cinta! Dikutip dari kelascinta.com menurut Dr. Gary Chapman, bahwa cinta digolongkan menjadi lima. Bahasa cinta cinta adalah cara orang mengekspresikan perasaan cintanya pada orang lain, dan bila cara tersebut dilakukan oleh pasangan atau orang-orang yang ia cinta, maka akan membuatnya merasa sangat dicintai. 

Oh ya, aku membahas bahasa cinta karena membaca tentang hal ini di instagram stories-nya Kak Seruni Puti, dan aku sangat merasa tertarik dengan pembahasan ini karena sering kali merasa tidak dimengerti wkwk. Terima kasih Kak Seruni, aku jadi lebih mengerti mengapa aku merasa tidak dimengerti wkwk.

Nah, sebelum menuntut orang lain untuk memahami diri kita, ada baiknya kita harus mengenal diri sendiri karena setiap orang memiliki bahasa cinta yang berbeda. Setiap manusia memang memiliki kelima bahasa cinta ini, tapi dari kelima bahasa cinta tersebut ada bahasa yang paling utama atau dominan yang paling menentukan bahasa cinta kita.

Di bawah ini adalah daftar lima bahasa cinta. Kamu yang mana?

1. Words of Affirmation 

Dalam bahasa cinta ini tindakan tidak lebih penting daripada kata-kata. Jika ini adalah bahasa cinta yang ada pada diri kamu, kamu pasti akan lebih senang diberi pujian atau kata-kata yang membuatmu merasa bahagia dan bersemangat. Mendengar seseorang mengatakan, “Aku cinta kamu.” adalah salah satu hal yang membuatmu bahagia, terlebih ketika kamu mendengar alasan seseorang mencintaimu, rasanya seperti terbang ke langit. Pokoknya, kata-kata adalah segalanya untukmu. Begitu pun sebaliknya, jika ada kata-kata seseorang yang melukai perasaanmu, kamu tidak akan pernah melupakannya. Kamu sangat menyukai kata-kata yang bersifat membangun.

Aku sendiri adalah salah satu manusia dengan bahasa cinta utama seperti ini. Dan yap, aku merasa ini sangat cocok dengan diriku.

2. Quality Time

Selanjutnya, yaitu quality time yang berarti menghabiskan waktu atau melakukan kegiatan bersama. Orang dengan bahasa cinta seperti ini pasti akan sangat senang berada di dekat orang-orang yang dicintai dan melakukan hal-hal menyenangkan bersama. Misalnya jika kamu senang berpetualang, maka berpetualang bersama orang-orang tersayang akan membuatmu merasa sangat dicintai. Kamu sangat menikmati waktu-waktu di mana kebersamaan kalian berjalan tanpa gangguan apapun.

3. Receiving Gifts

Kamu merasa sangat bahagia ketika seseorang memberikan hadiah atau ketika dirimu sendiri memberikan hadiah kepada orang lain?

Hadiah-hadiah apapun akan sangat berarti untuk kamu. Ketika seseorang memberi kamu hadiah sekecil apapun, itu akan membuatmu sangat, sangat, sangat bahagia. Kamu juga akan dengan senang hati memberikan hadiah-hadiah kepada orang-orang yang kamu cintai. Bukan lewat kata, bukan lewat jumpa, tapi lewat hadiahlah kamu dapat merasa sangat bahagia.

Bahasa cinta dominan keduaku adalah ini. Suka sekali setiap menerima hadiah, walaupun isinya hal-hal gak penting atau makanan ringan. Asal dikemas dalam bentuk hadiah, jadi istimewa wkwk. Dan memberikan hadiah adalah salah satu hal yang aku suka. Apalagi pas bagian memilih bungkus hadiah dan menulis pesan buat si penerimanya.🙈

4. Act of Service

Kamu suka dilayani? 

Jika iya, bahasa cinta utama pada dirimu adalah Act of Service. Kamu akan merasa sangat dicintai ketika seseorang memberikan pelayanan untukmu. Misalnya membukakan pintu untukmu, membantumu mengerjakan sesuatu, dan sebagainya. Kamu juga akan sangat senang untuk menawarkan bantuan kepada orang-orang terkasih. Usaha adalah hal yang paling penting untukmu.

5. Physical Touch 

Kamu suka ketika seseorang memegang tanganmu? Mengelus rambutmu? 

Bisa jadi bahasa cintamu adalah Physical touch. Dalam hal ini sentuhan fisik yang dimaksud adalah berpelukan, bergenggaman tangan, dan sebagainya. Misalnya jika kamu melihat adikmu menangis, maka kamu akan secara otomatis mengelus-ngelus kepalanya. Kamu juga sangat menyukai ketika seseorang melakukan hal tersebut padamu, misalnya jika kamu merasa sedih dan orang tuamu memelukmu maka hal itu membuatmu merasa sangat berarti dan dicintai. 


Mana yang paling sesuai denganmu? 

Kamu juga bisa mengetahui bahasa cintamu dengan melakukan tes di www.5lovelanguages.com

Jika kamu sudah tahu, maka kamu tidak akan mudah lagi merasa terabaikan atau tidak dimengerti karena kamu tahu bahwa setiap orang memiliki bahasa cintanya tersendiri dan kamu juga akan dapat mengerti orang-orang yang kamu cintai (walaupun tidak mudah, huhu).

Nah, sekian pembahasan tentang bahasa cinta kali ini. Jika ada kesalahan mohon dikoreksi, ya! :)


Ini akan menjadi sebuah pembuka singkat tentangnya. 

Lazuardi

Tentang biru yang tak lelah menaungi langkah, tentang biru yang pandai mengubah pilu tak lagi sendu, tentang biru yang kerap kali kecewa tapi tetap membisu. 

Biru itu dia, Lazuardi. 

Biru yang indah dan megah, tapi tetap memilih rendah, walau sudah tak diragukan lagi ketinggiannya. 
Iya, Lazuardiku adalah langit yang biru. 
Ini adalah awal dari untaian kata yang kucipta khusus untuknya.

Lazuardi yang birunya bukan hanya warna, melainkan hamparan rahasia.

Berbicara tentang buku. 

Sekilas tentang buku P. S. I Still Love You

Judul : P. S. I Still Love You

Penulis : Jenny Han

Penerjemah : Airien Kusumawardani

Jumlah halaman : 356 halaman

Tahun terbit : Cetakan Ketiga, Oktober 2018

ISBN : 978-602-71505-3-9

Penerbit : Penerbit Spring



P. S. I Still Love You

Novel P. S. I Still Love You karya Jenny Han ini memiliki cover yang sangat manis dan cocok sekali dengan genrenya yang young adult. Biasanya aku gak terlalu suka cover yang rame, tapi karena ini warnanya kalem banget jadi gak ada alasan buat aku untuk gak suka cover ini.

Ini fotonya:

Novel P. S. I Still Love You


Di sampul belakang novel ini tertulis...

Lara Jean tidak mengira akan benar-benar jatuh cinta pada Peter.
Dia dan Peter tadinya hanya berpura-pura. Tapi tiba-tiba saja mereka tidak lagi pura-pura. Sekarang, Lara Jean tambah bingung dengan perasaannya dan juga dengan situasi yang dia hadapi. 
Saat seorang pemuda dari masa lalunya tiba-tiba kembali ke dalam kehidupannya, percikan yang pernah dia rasakan pun kembali. Bisakah seorang gadis jatuh cinta pada dua pemuda sekaligus?
Buku ini adalah sekuel dari To All the Boys I’ve Loved Before, tempat kita bisa merasakan cinta pertama lewat Lara Jean.
Cinta tidak pernah mudah, tapi mungkin itulah yang membuatnya luar biasa.

 

Buku ini bercerita tentang kisah percintaan Lara Jean dengan Peter Kavinsky. Kisah mereka berawal dari sebuah kepura-puraan, lalu perlahan berubah menjadi sebuah hubungan yang menguras perasaan. Selain itu, buku ini juga bercerita tentang kelurga dan persahabatan yang menurutku sangat manis. 

Aku suka sekali dengan hubungan Lara Jean dengan keluarganya, terutama dengan kakak dan adiknya. Mereka selalu saling menghibur dan menguatkan ketika salah satu diantaranya sedang tidak baik-baik saja. Sosok Daddy juga sangat pengertian dan perhatian terhadap anak-anaknya. Manis sekaliii.

Persahabatan Lara Jean dan Chris juga keren, walaupun sifat mereka agak bertolak belakang. LJ lebih kalem dan cenderung berhati-hati, sedangkan Chris urakan. Dan persahabatan LJ dan Genevieve mengajarkan bahwa sebenci apapun kita dengan seseorang yang pernah jadi bagian penting dari hidup kita, akan selalu ada sesuatu yang mengikat, yang membuat kita tak bisa sepenuhnya membenci. Terlebih sebelumnya persahabatan mereka sangat erat.

Dan tentang kisah cintanya... Aku bingung mau ngeship LJ sama Peter atau John. Peter menawan, tapi dia menyebalkan. John gak mungkin dilewatkan, tapi gak rela kalo Peter Kavinsky digantikan.

Jadi, saat menjalin hubungan dengan LJ, Peter sebenarnya tidak begitu terbuka kepada LJ. Di belakang LJ, Peter ternyata masih sering menemui Genevieve yang tidak lain adalah mantan kekasihnya (FYI, dulu LJ dan Peter berpura-pura pacaran untuk membuat Gen sakit hati, tapi ternyata kepura-puraan ini berubah jadi kenyataan, cinta hadir di tengah kepura-puraan itu). Kalo aku jadi LJ, aku gak akan pernah menaruh kepercayaan yang tinggi pada Peter. Menurutku Peter di buku ini sangat menyebalkan. Walaupun sebenarnya Peter tak berniat menyakiti hati LJ, tapi tetap saja tindakan Peter itu salah. Dan kebetulan saat hubungan LJ tidak baik-baik saja, John (teman masa kecil LJ dan Peter) hadir dan membuat hari-hari LJ yang sendu menjadi lebih cerah. Sebetulnya aku jatuh cinta dengan John. Aku juga merasa sedikit tidak rela ketika pada akhirnya LJ kembali lagi bersama Peter. 

Untuk gaya penulisannya sendiri aku sangat suka dengan cara Jenny Han bercerita. Tulisannya ringan tapi tetap penuh makna yang mendalam. Ceritanya dikemas dengan sangat apik dan suka sekali dengan penokohannya, masing-masing tokoh memiliki ciri khasnya tersendiri.

Beberapa quotes dari Novel P. S. I Still Love You:

“Semua terasa seolah akan berlangsung selamanya, tapi sebenarnya tidak. Cinta bisa pergi atau orang-orang bisa pergi, bahkan tanpa bermaksud untuk pergi. Tidak ada yang dijamin tidak akan berubah.”

—hal 34-35

“Jangan pernah membiarkan dia terlalu yakin tentang dirimu.”

—hal 22

“Untuk sesaat hubungan kami sangat menyenangkan. Teramat sangat menyenangkan. Bukankah hubungan kami menyenangkan? Mungkin segala yang teramat sangat menyenangkan tidak ditakdirkan untuk berlangsung lama. Mungkin itulah yang menjadikannya jauh lebih manis, karena sifatnya hanya sementara.”

—hal 270-271

“Banyak orang yang keluar masuk di hidupmu. Untuk satu masa, mereka adalah duniamu, mereka segalanya. Lalu suatu hari mereka bukan lagi apa-apa bagimu. Kau tidak bisa tahu seberapa lama mereka akan berada di dekatmu.”

—hal 347


Rate: 4.9/5


 Berbicara tentang buku. 

Sekilas tentang buku kumpulan cerita Madre

Judul : Madre

Penulis : Dee Lestari

Jumlah halaman : xiv + 178 halaman

Tahun terbit : Cetakan Kelima, April 2018

ISBN : 978-602-291-093-0

Penerbit : Bentang Pustaka


Madre

Madre ini sempat berganti cover dan cover yang aku miliki dapat diihat seperti di bawah ini. Warnanya dominan putih dan di bagian bawahnya terdapat ilustrasi bangunan seperti sebuah toko, mungkin itu Toko Roti Tan. Di bagian atasnya tertera judul buku ini dengan latar roti yang telah dipotong-potong. Uniknya pada kata Madre, huruf d-nya dibuat seperti kunci. Aku rasa cover ini benar-benar gambaran dari isi bukunya.

Ini fotonya:

Kumpulan cerita Madre karya Dee Lestari


BLURB

“Apa rasanya jika sejarah kita berubah dalam sehari? Darah saya mendadak seperempat Tionghoa, nenek saya seorang penjual roti, dan dia, bersama kakek yang tidak saya kenal, mewariskan anggota keluarga baru yang tidak pernah saya tahu: Madre.”

Buku ini terdiri atas 13 prosa dan karya fiksi yang ditulis oleh Dee Lestari. Judul-judulnya yaitu Madre, Rimba Amniotik, Perempuan dan Rahasia, Ingatan tentang Kalian, Have you ever?, Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan, Wajah Telaga, Tanyaku pada Bambu, 33, Guruji, Percakapan di Sebuah Jembatan, Menunggu Layang-layang, dan Barangkali Cinta. 

Sebelum membaca buku ini kita akan disuguhkan dengan sebuah peringatan yang tertulis: tidak semua perenungan itu berujung pada jawaban. Sering kali, malah pertanyaan barulah yang lahir. 

Awal yang mengesankan sekaligus membuat penasaran, bukan?

Oke, lanjuuut~

Di antara ke-13 karya tersebut yang paling aku sukai adalah Madre, Guruji dan Menunggu Layang-layang. Madre merupakan cerita utama sekaligus cerita yang paling banyak mengambil tempat di buku ini. Meskipun cukup panjang, tapi Madre sama sekali tidak membosankan. Madre merupakan pembuka terbaik yang pernah aku baca, yang membuat siapa saja akan tertarik untuk terus membaca seluruh isi buku tanpa henti. Sedangkan Guruji, merupakan sebuah cerita yang menurutku paling menyentuh, dan Menunggu Layang-layang adalah cerita yang benar-benar menggambarkan kita sebagai manusia yang terkadang tak tahu apa yang sebenarnya kita inginkan. 

Bagiku buku ini seperti sebuah rumah yang hangat, penuh cinta, juga tanda tanya. Buku ini seolah menyadarkanku bahwa segala sesuatu yang paling berharga tidak dapat dinilai dengan harga, buku ini mengajarkan tentang penerimaan, tentang segala ketulusan, juga tentang kesadaran bahwa tak semua tanya berjodoh dengan jawaban. Membaca kumpulan cerita ini memberikan kesan mendalam dalam diriku yang tak mungkin aku lupakan. 

Oh ya, kalian harus tahu betapa kagetnya aku ketika tahu bahwa Madre adalah adonan roti! Dan hal ini benar-benar membuatku kagum dengan semesta yang hidup dalam benak penulisnya. Yap, Dee Lestari selalu membuat kita takjub dengan ide-idenya yang luar biasa, yang tak terduga, namun selalu berhasil mencuri hati siapa saja yang membaca karyanya. Ibu Suri kereeen, no debat!


Beberapa quotes dari Madre:

“Satu-satunya yang ingin saya teruskan adalah kebebasan saya.”

“Kalau bebas sudah jadi keharusan, sebetulnya sudah bukan bebas lagi, ya?”

—hal 54

“Kamu boleh panggil aku apa saja. Aku nggak akan bingung. Selama hati kamu yang memanggil, aku bisa tahu siapa yang kamu maksud.”

—hal 125

“Kamu nyaris nggak berubah. Aku benar-benar pulang ke rumah.” 

—hal 126

“... lepaskan saya seperti saya melepaskan kamu. Hanya dengan begitu kamu nggak pernah kehilangan saya. Kamu nggak pernah kehilangan apa pun.”

—hal 131

“Aku hanya ingin mengucap selamat tinggal pada belahan jiwaku yang telah menemukan keutuhannya dalam dirinya sendiri. Aku dan rumahku adalah persinggahan yang harus ia tempuh, tapi bukan untuk ia miliki.”

—hal 131

“Kalau kita tahu pasti apa yang kita mau, ngapain buang energi buat coba-coba? Masalahnya, kamu nggak pernah tahu yang kamu mau.”

—hal 145

“Selama ini, kamu mengisi kekosonganmu dengan sibuk mengisi kekosongan orang lain. Saking kamu sibuk sendiri, mereka nggak pernah diberi kesempatan untuk mengisimu balik. Jadi wajar aja kalau nggak satu pun dari mereka bisa memuaskan kamu. Kamu selalu merasa ada yang kurang.”

—hal 164-165

“Aku dan kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya, aku mencari. Kamu menunggu.”

—hal 165

“Kita sama-sama tahu ini akan berakhir seperti apa. Aku bukan yang kamu cari. Kamu bukan yang aku cari.”

—hal 168


Rate : 4.9/5 


Ketika kamu bukan pemeran utama


Tak banyak yang kurasa akhir-akhir ini, satu-satunya yang paling akrab denganku adalah sebuah kekosongan. Aku merasa ada satu tempat dalam jiwaku yang tak berpenghuni dan tak tahu siapa yang berhak menghuninya. Bingung kerap menghampiri, sedang sakit sudah lama terperi. Seperti kehilangan sesuatu yang tak pernah menjadi milikku. Seperti berada dalam satu buku yang sesungguhnya tidak pernah tercipta untukku.

Kau tahu, barangkali aku hanyalah seorang tokoh pelengkap cerita yang hadir di sela-sela kisahmu dengannya. Aku tak pernah menjadi peran utama dalam buku yang kau baca. Aku menyadari itu setelah ratusan purnama kita tak berjumpa. Rupanya bukan hanya aku yang menghindari kita untuk bertatap muka, tetapi alam pun tak berkenan untuk melihat kita kembali beradu dalam satu buku yang sama.

Buku yang kamu baca telah sampai di halaman terakhir. Cerita kita sudah berhenti, maksudku cerita kalian. Karena aku tidak pernah benar-benar hadir di dalamnya.  Dan kau sadar bukan bahwa sejak pertengahan halaman aku sudah tiada? Peranku sudah dilupakan oleh penulisnya. Ia merasa sudah tak memerlukan lagi aku dalam kisahmu. Dia menuliskan buku yang baru untukku, tanpa kamu. begitu pun sebaliknya. 

Meski sudah berada di buku yang berbeda, tapi aku tetap saja merasa hampa. Sebab, aku terlalu menikmati cerita kita di buku sebelumnya. Cerita yang sebenarnya tak pernah bercerita tentang kita. Aku dan kamu hanya kebetulan berada di garis yang sama dan sempat saling bersentuhan. Sesingkat itu kita. Bahkan tak banyak yang kuingat tentang kisah itu, namun entah kenapa rasanya masih menyesakkan dada.

Peran utama tak menjadi jaminan kisah itu sempurna, ketika di dalamnya tak ada satu pun dialog tentang kita.

Ada ruang kosong dalam diriku yang tak akan pernah sirna.


Berbicara tentang buku. 
Sekilas tentang Novel Silent Separation 
Judul : Silent Separation
Penulis : Gu Man
Penerjemah : Jeanni Hidayat
Jumlah halaman : 336 halaman
Tahun terbit : Cetakan pertama, Mei 2018
ISBN : 978-602-51860-0-4
Penerbit : Penerbit Haru

Silent Separation

Warnanya lucu! Itulah salah satu alasan yang membuatku membeli buku ini. Sebelumnya aku melihat buku ini pada postingan pecinta buku lainnya di Instagram. Warna covernya sangat cantik dan lembut, ditambah dengan ilustrasi seorang laki-laki dan perempuan dengan refleksinya masing-masing yang sangat indah. Anu... ganteng banget ilustrasinya. Selain itu, font-nya juga lucuuu!

Ini fotonya:


Buku ini menceritakan kisah Zhao Mo Sheng dan He Yi Chen yang bertemu kembali setelah berpisah selama tujuh tahun lamanya. Tujuh tahun lalu, Mo Sheng memutuskan pergi ke luar negeri dan meninggalkan Yi Chen. 

Menurutku, ceritanya ini sangat hangat dan mengalir. Gaya Gu Man bercerita sangat nyaman dibaca. Terjemahannya juga ngalir banget, samapi tidak sadar kalo yang sedang kubaca adalah buku terjemahan. Awalnya aku sama sekali tidak menyukai Yi Chen, namun setelah membaca lebih banyak halaman aku benar-benar terpukau dengan sosok Yi Chen, ia ternyata hanya jatuh cinta sekali selama hidupnya! Hey, seandainya kamu nyata!

Selain itu, di awal cerita aku juga sempat merasa jengkel dengan kedua tokoh utamanya ini. Mereka seolah-olah ingin kembali bersama tapi saling gengsi. Aduh, gemes. Tapi, mungkin di situlah titik menariknya. 

Dan... buku ini penuh kejutan! Konfliknya sebetulnya agak rumit, tapi berhasil dikemas dengan begitu ringan dan nyaman dibaca. Banyak rahasia-rahasia yang terungkap di balik kejadian tujuh tahun lalu itu. Termasuk rahasia tentang kandasnya hubungan Yi Chen dan Mo Sheng dan alasan mengapa Mo Sheng meninggalkan Yi Chen. 

Rahasia-rahasia yang bisa saja membuat keduanya berpisah untuk selamanya. Kalo aku jadi Yi Chen aku ragu akan menatap Mo Sheng dengan tatapan yang sama. Tapi meskipun begitu, baik Mo Sheng maupun Yi Chen tidak seegois itu. Mereka terus mempertahankan perasaan mereka hingga akhirnya dapat kembali bersama.

Beberapa quotes yang aku sukai dari Novel ini:

“Setiap orang punya jodoh masing-masing. Tidak bisa dipaksakan.” –hal 231

“Semanis apa pun senyumnya, dia sudah pergi. Dia sudah keluar dari hidup kami.” –hal 292-293

“Kelak kau akan mengerti. Kalau pernah ada seseorang yang muncul di duniamu, yang lain hanya akan menjadi pelarian saja.” –hal 298

“Tiba-tiba aku merasa bahwa aku adalah bunga yang tidak bernama itu. Mekar dan gugur... dari awal sampai akhir tahun... tidak ada yang pernah memedulikannya.” –hal 300

“Namun siapa sih yang tidak takut, dan siapa yang tahu nantinya apa yang akan terjadi? Siapa yang bisa mengendalikan nasibnya sendiri? Tidak ada yang sempurna, tapi dia tidak berani bertaruh dengan kebahagiaan yang benar-benar dirasakannya sekarang dengan masa depan yang belum pasti itu.” –hal 322

Rate: 4.9/5

Sekian ulasan kali ini. Yuk baca juga buku ini!❤


Banyak dari kita, termasuk aku sendiri terkadang berpikir tentang bagaimana caranya agar bisa melupakan sesuatu yang seringkali mengganggu pikiran. Tapi, aku salah. Aku tak perlu memakai cara-cara khusus untuk bisa melupakan, yang aku perlu hanya membiasakan. 

Ya, biasa. Itu kuncinya. 

deefesef


Aku harus terbiasa dengan segala sesuatu yang sudah jauh berbeda. Walau kadang masih saja perasaan tak rela hinggap dan membuatku terpenjara di dalam ruang tua yang seharusnya sudah tidak ada. 

Tidak mudah, itu pasti. Namun, untuk apa terus memaksa diri menghapus sisa-sisa memori? Itu hanya akan membuat diri ini tersiksa lebih lama lagi.

Aku dengan segala kurangku, dengan segala bodohku, dengan segala egoku, dengan segala yang pernah membuat kelam harimu, kini aku membiru. Biar waktu saja yang perlahan meluruhkan segala sesal, kesal, dan segala resah itu berasal. Biar itu semua hilang, biar perlahan tak lagi kukenang, biar kamu pun tenang. 

Aku memilih semuanya mengalir tanpa sedikit pun paksaan. Karena semakin dipaksa, semakin sulit untuk lupa. Mungkin kata-kata semacam ini sering kamu dengar atau kamu baca, tapi ini bukan sekadar kalimat biasa, melainkan suatu ungkapan untuk menguatkan kita yang banyak lemahnya. 

Dulu, aku berpikir bahwa aku harus memutus semua akses untuk melihat keberadaanmu, tapi kini aku merasa bahwa itu tidak perlu. Dulu, aku berpikir bahwa aku harus menemukan orang lain agar kamu tak lagi menjadi yang kuingin. Dulu, aku berpikir bahwa aku harus menghindar, sekarang bahkan tak ada lagi sekat yang ingin aku jadikan pagar. Aku memilih untuk terbiasa dengan kita yang berbeda. 

Ketika yang kita lakukan berubah jadi rasa bosan, maka kita akan perlahan berhenti. Lama-lama kita akan menjauh dengan sendirinya. Akan muak mengingat dengan sendirinya. Akan terbiasa, kemudian lupa.

Tak ada yang dapat cepat dalam perihal melupa, kecuali ia hanya membohongi dirinya saja. Dan, aku tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang rela mempermainkan dirinya. Cukup saat itu saja. Tidak untuk langkah selanjutnya.

Jika aku cukup buruk untuk memaksakan sesuatu di masa lampau, maka sekarang tak ada lagi alasan untuk kembali mengulang kedunguan itu. Segala yang dipaksa akan sulit diterima. Sementara itu, memang tak mudah untuk menerima, tapi dengan terbiasa semuanya akan bisa jadi nyata. 

Pelan tapi sampai tujuan tanpa ada yang mengganjal di pikiran, tanpa ada benang kusut dalam pikiran, tanpa ada lagi beban yang menuntut untuk terus dipikirkan. 

Lupa karena terbiasa bukan omong kosong belaka. Banyak orang yang kini sembuh karena melakukannya dengan sungguh-sungguh. Rela sepenuhnya memang mustahil, tapi setidaknya satu misi telah berhasil. 

Berbicara tentang buku. 
Sekilas tentang Novel Peter Pan
Judul : Peter Pan
Penulis : J. M. Barrie
Jumlah halaman : 240 halaman
Tahun terbit : Cetakan kedua, Maret 2020
ISBN : 9786020303475
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Peter Pan
Cover buku ini benar-benar sesuai dengan imajinasiku. Ilustrasinya keren! Aku bahkan dapat merasakan sesuatu yang sangat indah saat menatap covernya. Digambarkan seorang anak laki-laki dan perempuan sedang berpegangan tangan dan melayang di langit malam yang begitu indah. Rembulan, gumpalan awan malam, cahaya dari bangunan di bawah mereka, dan kilau serbuk peri membuatnya tampak lebih menawan. Ah, take me to Neverland!

Ini fotonya:

Novel Peter Pan Karya J. M. Barrie


Buku ini menceritakan tentang keluarga Darling dan para penghuni Neverland. Tentang petualangan anak-anak keluarga Darling bersama Peter Pan, Tinkerbell dan para Anak Hilang   di sebuah tempat bernama Neverland. Sebuah dongeng yang pastinya sudah tidak asing lagi. 

Kisah ini berawal dari kedatangan Peter dan Tinker Bell ke kamar anak-anak keluarga Darling untuk mengambil bayangan Peter yang tertinggal. Wendy yang saat itu sudah tertidur, akhirnya terbangun karena mendengar isakan tangis Peter yang tak mampu melekatkan bayangannya sendiri. Singkat cerita, Wendy membangunkan kedua adiknya, John dan Michael. Peter kemudian membawa mereka pergi ke Neverland. 

Kedatangan mereka ke Neverland rupanya tidak disukai Tink, meskipun peri itu membantu Peter untuk menaburkan serbuk perinya kepada Wendy, John, dan Michael agar mereka bisa terbang, namun jauh di lubuk hatinya ia merasa tidak rela. Terlebih ketika ia melihat bahwa Peter lebih memperhatikan anak-anak tersebut, terutama Wendy. 

Di balik itu semua, petualangan mereka di Neverland sangat seru, penuh dengan ketegangan dan kejutan. Mereka bertarung melawan Kapten Hook dan para awak kapal lainnya, bertemu dengan orang-orang Indian, putri duyung, dan buaya yang di dalam perutnya terdapat jam yang selalu berdetik dan suara detikannya itu membuat Kapten Hook ketakutan. 

Semua petualangan itu sangat menyenangkan, hingga tak terasa anak-anak keluarga Darling sudah lama sekali meninggalkan rumah. Wendy yang lebih dahulu teringat pada rumah mencoba mengingatkan kembali John dan Michael. Kedua anak laki-laki kecil itu ternyata sudah melupakan rumahnya. Hal tersebut membuat Wendy sedih, terlebih ketika ia mengingat ibu dan ayahnya. Namun, akhirnya mereka dapat mengingat kembali dari mana mereka berasal dan memutuskan untuk pulang. 

Namun sayangnya, perjalanan pulang mereka harus ditunda karena Kapten Hook beserta para gerombolannya melakukan serangan hingga terjadilah peperangan. Pertarungan itu kemudian dimenangkan oleh Peter dan gerombolannya. Setelah peperangan itu usai, Peter dan Tinker Bell mengantar anak-anak keluarga Darling pulang ke rumah mereka. 

Kira-kira begitulah ceritanya. Sejujurnya, kisah ini belum berhenti, tapi aku hanya menuliskan sampai di sini saja. 

 

Dari cerita tersebut aku dapat belajar banyak hal. 

Pertama dari Peter, seorang anak yang begitu takut untuk menjadi dewasa dan paling tidak menyukai segala hal yang berkaitan dengan kata ‘ibu’. Tapi, di balik semua sifat kekanak-kanakan dan keegoisannya, sesungguhnya ia hanya ingin menutupi pilu di dalam hatinya. Sebab, ada kebahagian yang tak mungkin ia rasakan. 

Kedua dari Wendy, sebagai seorang anak perempuan ia begitu anggun, baik hati, bijak, dan cekatan. Ia juga merupakan sosok yang hangat dan ceria.

Ketiga dari Tink. Meskipun ia tak menyukai kehadiran Wendy dan hampir mencelakainya, tapi ia mampu untuk berdamai dengan keadaan tersebut. Hal itu ia lakukan demi Peter.

Selanjutnya dari Kapten Hook aku mengerti bahwa sekejam-kejamnya seorang manusia, sisi baik di hati kecilnya akan selalu ada.

Terakhir dari John, Michael, dan para Anak Hilang. Para anak-anak yang ceria, polos, dan penurut. Itulah yang paling aku sukai dari mereka. 

Secara keseluruhan novel ini sangat menarik. Sayangnya, menurutku terjemahannya terasa kurang pas. Entah, barangkali memang setiap terjemahan novel klasik bahasanya agak kurang mengalir. 

Beberapa kutipan dari novel Peter Pan:
 
Apabila kau berlaku tidak adil kepadanya, ia akan mencintaimu lagi, namun ia takkan menjadi anak yang samaa sesudahnya. –hal 121

Tak seorang pun dari mereka tahu. Mungkin itulah yang terbaik bagi mereka. –hal 139 



Rate: 4.5/5

Apa saja yang kamu lakukan selama pandemi? Apakah di rumah saja membuatmu semakin malas gerak atau justru hidupmu lebih semarak? 

Dari buku Rectoverso, Dee Lestari


Memang, kadang terasa jenuh juga harus di rumah saja. Aktivitas terbatas, bertemu keluarga yang jauh sulit, bercengkrama bersama teman jadi tak leluasa, pergi ke tempat wisata rasanya bukan pilihan yang tepat juga. Kamu merasa begitu? 

Sama. Kamu gak sendiri. Awalnya aku juga merasakan itu semua. 

Terlebih ketika awal pandemi ini aku masih berada jauh dari orang tua, sedih sekali. Ditambah dengan drama sakit yang melanda, tugas kuliah yang semakin lama semakin membuat sakit kepala. Stres, takut, sedih, semuanya berada dalam wadah yang sama, yaitu kepala. Seperti es campur tanpa gula. Beruntungnya masih ada saudara yang selalu merawat dan mendukungku di saat-saat yang tidak mudah itu, juga teman-teman yang jadi semangatku.
Maaf curhat wkwk.

Nah, itu semua sudah lewat sekarang. Dan, di pandemi ini aku malah mendapati diriku menjadi lebih ‘aku’. Ya, dengan berada di rumah saja membuat otak kita terus berpikir untuk mengisi hari-hari yang begitu-begitu saja, kemudian mengolahnya menjadi sesuatu yang luar biasa. 

Jadi, selama kuliah dan menjadi anak kos, aku mulai melupakan hal-hal yang aku suka. Hal-hal yang biasanya aku lakukan itu terabaikan. Membaca yang bukan buku pelajaran jadi hal yang cukup langka dilakukan, memotret pun kadang-kadang, menulis apalagi. 

Dan karena pandemi ini, aku bisa melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Membaca, memotret dan menulis kembali menjadi rutinitas yang menghidupkan hari-hariku yang beberapa waktu lalu sempat kelabu. 

Senang sekali ketika pada akhirnya dapat menyelesaikan buku demi buku yang sudah lama terabaikan, bahagia ketika pada akhirnya dapat menata barang-barang dan memotretnya atau sekadar mencari objek yang memikat mata dan indah di kamera. Semua itu lebih lengkap ketika jemari ini sudah mulai dapat beradaptasi lagi dengan tuts-tuts keyboard dan menuliskan beberapa tulisan, tentang kehidupan dan beberapa hal lain yang menyita perhatian. 

Menurutku, pandemi ini justru menjadi ajang yang tepat untuk menyembuhkan diri. Kesibukan telah terlalu banyak mengambil porsi atas kemurnian diri. Oleh sebab itu, waktu yang senggang ini sangat cocok untuk kembali memeluk dirimu sendiri dan meramu berbagai hal yang mampu mengobati. 

Apa saja yang kamu lakukan selama pandemi? Apakah kamu merasa bahagia atau tersiksa? Bosan atau mulai menemukan hal yang menyenangkan? 

Dari hari ini, mari mulai sama-sama menyembuhkan diri. 

Pandemi bukan alasan untuk bermalas-malasan, pandemi adalah waktu paling tepat untuk menyembuhkan. 
Semoga pandemi ini cepat usai, tapi bahagia kita abadi dan syukur kita tak pernah selesai.❤ 

Kali ini aku akan membahas tentang MBTI, terutama kepribadian INFP. 



Aku tidak suka basa-basi, tapi untuk kali ini aku merasa bahwa hal itu perlu. Aku mulai tertarik dengan tipe kepribadian dari saat duduk di bangku SMP dan mulai mengenal MBTI dari awal masa SMA. Dari situ aku mencoba melakukan beberapa kali tes MBTI di situs yang berbeda dan dalam jangka waktu tertentu. Nah, yang membuatku menulis topik ini adalah karena hasil tesku selalu INFP! Hmmm, sepertinya aku memang manusia tipe ini. Terakhir kali aku melakukan tes ini beberapa hari lalu dan hasilnya masih sama. 

Yap, INFP! 

Entah sudah berapa puluh kali, masih tetap INFP. 

Sebenarnya aku sudah lama ingin membahas tentang Kepribadian INFP ini, namun karena hal ini membutuhkan data, jadi aku memutuskan untuk menggali dulu informasi dari berbagai sumber. Namun, di sini aku tidak akan bergantung hanya pada informasi yang aku dapat, tetapi aku juga akan menuliskan pengalaman-pengalaman dan segala perasaanku yang aku rasa memiliki kaitan erat dengan kepribadian INFP ini.

Kalimat pembuka yang cukup panjang.

Oke, mulai...

Apa sih INFP itu?

Dilansir dari idntimes.com INFP merupakan salah satu dari 16 Tipe Kepribadian berdasarkan MBTI (Myers-Briggs Type Indicator). INFP sendiri merupakan singkatan dari Introvert (I), Intuitive (N), Feeling (F), dan Perceiving (P). Pemilik kepribadian ini cukup langka yaitu sekitar 4%-5% populasi yang ada di dunia. Tipe kepribadian ini sering juga disebut The Idealist, The Healer, The Dreamer, The Mediator, The Paradox, dan sebagainya.

Nah, itulah sekilas pengenalan tentang INFP.
 
Oh ya, untuk mengetahui tipe kepribadian kalian bisa dilakukan  di 16personalities.com 

Apakah hasil tes MBTI itu akurat? 

Aku belum menemukan apakah MBTI ini akurat atau tidak, tapi sejauh ini aku merasa cocok dengan penjelasan-penjelasan tentang kepribadian INFP. MBTI sendiri merupakan suatu tes untuk mengetahui kepribadian yang sangat populer dan banyak digunakan. Menurutku hasilnya 98% akuraaat! Bisa dibandingkan sendiri ya, apakah tipe kepribadian yang kamu dapat dan dirimu itu cocok atau tidak. Kembali lagi kepada masing-masing individu. Jadi, tulisan ini hanya sebagai gambaran umum untuk selangkah lebih mengenal dirimu sendiri, karena MBTI sendiri penuh dengan pro dan kontra, jadi jangan terlalu dianggap serius. Ambil sisi positifnya saja, ya! 

Oke, lanjuuut...

Aku sendiri adalah seorang INFP-T atau biasanya disebut The Mediator. INFP sendiri terbagi dua, yaitu INFP-T dan INFP-A, untuk lebih jelasnya bisa search ya wkwk. Nah, INFP sendiri merupakan suatu kepribadian yang agak aneh dan kacau menurutku. Dari berbagai sumber yang aku baca, para INFP termasuk aku sendiri seringkali disalahpahami oleh orang lain (agak menyebalkan memang, hmmm). Sebenarnya kami punya alasan tersendiri mengapa INFP terkadang menjadi sosok yang berbeda. 

INFP itu dianggap sebagai pribadi yang tertutup dan pendiam, tetapi di balik itu semua sebenarnya INFP akan menjadi orang yang begitu terbuka kepada orang-orang tertentu yang membuatnya merasa nyaman. Bahkan, ketika berada di sekitar orang-orang yang membuatnya nyaman INFP gak pernah kehabisan topik obrolan, lho! Hal-hal sekecil dan sereceh apapun akan diutarakan. Ya, walaupun cuma sekedar manggil-manggil nama lawan bicara dengan sangat tidak jelas. Hal itu dilakukan INFP agar pertemuan mereka hangat dan bermakna, bukan sekadar pertemuan yang akan dilupakan kemudian. 

Para INFP juga memiliki banyak hal yang sangat berdesakan di dalam pikirannya dan terkadang hal itu cukup sulit diutarakan. Jadi, mohon maaf apabila INFP mengajakmu berbincang tentang hal-hal aneh, seperti alien dan lain-lain. Namun, percayalah bahwa ketika INFP menawarkan topik yang tidak biasa dalam obrolan, ia memang benar-benar tertarik dengan topik tersebut.  Sebetulnya kami adalah makhluk-makhluk tidak jelas dengan pikiran-pikiran yang tidak jelas juga. Namun, ketidakjelasan itulah yang membuat aku sendiri merasa nyaman dengan diriku. 

INFP juga sangat menyukai segala sesuatu yang harmoni dan paling benci dengan konflik. Itulah mengapa INFP jarang marah dan lebih memilih untuk mengalah walaupun bukan dia yang salah. Dan, INFP ini selalu melihat orang dari sisi baiknya, heran. Namun INFP juga sangat sensitif dan tidak suka akan kritikan. 

Hal lainnya tentang INFP adalah sangat tertarik pada seni. Aku sendiri cukup tertarik dengan sastra, fotografi, lukisan, dan musik. Walau menyukai hal tersebut tapi aku payah dalam melukis dan segala hal tentang musik. Sastra dan fotografi pun masih hancur wkwk, tapi aku tetap menyukai hal-hal tersebut. Menurutku seni itu serupa obat yang menyembuhkan jiwa. INFP senang sekali berimajinasi dan memiliki rasa penasaran yang besar, serta biasanya lebih senang mengungkapkan perasaan dengan tulisan. 

Orang-orang dengan kepribadian INFP sendiri sangat peduli dan memikirkan setiap perkataan orang lain padanya. Jadi, kalo ada perkataan orang yang bikin aku seneng atau sedih pasti selalu terngiang di telinga. Kadang bisa membuat semangat, kadang membuat jadi serba salah juga. Meskipun demikian, INFP adalah pribadi yang lebih memilih sesuatu sesuai dengan selera dan standarnya sendiri daripada mengikuti tren atau ikut-ikutan orang lain. 

Sebagai idealis INFP adalah pribadi yang sangat sulit mengambil tindakan, karena ia punya standar yang tinggi. Hal ini terkadang membuat gagasan-gagasan INFP yang membludak tidak bisa dieksplor dengan baik. Namun, di balik itu semua INFP juga mempunyai spontantitas yang cukup baik. Dengan spontanitas inilah aku merasa banyak terbantu. Saking spontanitasnya aku sampai tidak menyukai jadwal. Sebab, hal-hal yang dijadwalkan selalu tak terlaksanakan, tapi hal-hal yang tidak pernah terpikirkan selalu dilakukan. 

Dan yang terakhir, INFP itu senang diperhatikan tapi tidak suka menjadi pusat perhatian. Bisa merasa optimis dan pesimis dalam waktu bersamaan. Nah, lho... mungkin itulah mengapa INFP dijuluki The Paradox, ya! Hidupnya penuh dengan sisi-sisi yang bersebrangan alias bertolak belakang. Tentunya, hal ini membuat INFP akan sulit dipahami oleh orang lain, bahkan oleh dirinya sendiri. 

Nah, sekian pembahasanku tentang INFP. 
Unik dan aneh banget ya INFP! 

Mohon koreksinya bila ada kekeliruan, ya.

Sebagai penutup ada quotes niiih,

Cintai seperti apapun diri kamu, baik-buruk dan segala yang melekat pada diri kamu adalah anugrah terbaik yang membuatmu unik! 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

TEMUKAN SAYA

TERPOPULER

  • BDHK: Setelah Hari Itu #3
  • BerbicaraTentangBuku: Angin Bersyair karya Andrei Aksana
  • Lazuardi: Lebih Baik Selesai
  • BerbicaraTentangBuku: Novel The Magic Library (Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken) karya Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup
  • Neverland dan Moors
  • Peran
  • Cara Membedakan Buku Asli dan Bajakan
  • Kumpulan Quotes dari Novel Pride and Prejudice Karya Jane Austen
  • Gagal dari Awal
  • BerbicaraTentangBuku: Stories for Rainy Days

KATEGORI

  • #30DaysWritingChallange 10
  • Cerita 24
  • Cerita Bersambung 2
  • DAY 1 : Describe your personality 1
  • Lazuardi 2
  • Puisi 5
  • Serba-serbi Perbukuan 15
  • Tentang Film 5
  • Tentang Kehidupan 42
  • Ulasan Buku 18
Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
deefesef
Hi, Devi di sini! Menuliskan apa yang tidak akan pernah dia baca, juga menulis tentang berbagai rasa dan tanya, serta banyak hal lainnya.
Lihat profil lengkapku

ARSIP

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  Oktober (1)
      • Sang Alkemis—Mengembalikan Mimpi yang Sempat Hilang
  • ►  2023 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2020 (85)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (27)
    • ►  Agustus (16)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (9)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)
  • Beranda
  • Rangkaian Kata
  • Ulasan Buku

© - Devi Sofiyanti | Designed by OddThemes