Between Words | Devs

Rentang Kisah


Siapa yang sudah nonton film Rentang Kisah? Di postingan sebelumnya aku pernah menyinggung tentang film Rentang Kisah dan mengatakan bahwa aku akan menjelaskan sedikit tentang apa yang aku dapatkan dari menonton film tersebut. Sebuah film yang diangkat dari buku dengan judul yang sama karya Kak Gitasav (Gita Savitri Devi) yang menceritakan tentang perjalanan hidupnya yang ternyata tak sesempurna yang aku kira sebelumnya. 

Pada tanggal 11 September 2020, film Rentang Kisah untuk pertama kalinya tayang di aplikasi Disney+ Hotstar. Sebetulnya aku sudah lebih dulu penasaran ingin membaca bukunya, tapi sayangnya belum terwujud sampai hari ini. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menonton filmnya. Tepat di hari pertama penayangannya, aku langsung bergegas menonton filmnya. Tak ada ekspektasi yang begitu tinggi, takut kecewa. Tapi ternyata... duaaar... benar-benar sebagus itu! 

Menurutku film ini benar-benar paket komplit. Semua perasaan ada dan selalu berhasil menguras emosi. Senang, sedih, bimbang, takut, marah, segala bentuk perasaan tercampur dengan sempurna. Sepanjang menonton film tersebut, aku dibuat tersenyum, tertawa, berkaca-kaca, hingga berurai air mata. Lengkap banget. Kisah yang disuguhkan pun dikemas dengan sangat apik dan menarik. Tentang keluarga ada, persahabatan ada, percintaan ada, masalah ekonomi ada, dan banyak hal lainnya.

Nilai tambah lainnya adalah Beby Tsabina benar-benar menghayati perannya. Aku bisa merasakan sesuatu yang biasanya kulihat pada diri Kak Gita saat aku menonton video-videonya, hadir di Beby. Gerak-gerik dan cara bicara Kak Bio One juga mengingatkanku pada Kak Paul. Dan yang terpenting, rasa dan pesan dalam film ini tersampaikan dengan sempurna.

Setelah selesai nonton film ini, aku jadi tergerak untuk melakukan sesuatu, meskipun aku sendiri gak tahu apa yang harus kulakukan. Aku terinspirasi oleh Kak Gita. Kak Gitasav yang bahkan dulu gak tahu mata pelajaran yang disukainya, sekarang sudah bisa sukses dengan caranya sendiri. Dengan bidang yang ia tekuni. 

Film ini wajib ditonton oleh siapa pun, terutama untuk kita-kita yang sedang bingung dengan masa depannya.😹 

Aku menemukan harapan dan semangat baru setelah menonton film ini. Aku jadi lebih yakin bahwa setiap orang bisa sukses dengan caranya sendiri, dan aku pun kembali tersadar bahwa hal yang kita lihat menyenangkan hari ini adalah hasil dari perjuangan yang melelahkan serta rasa sakit di hari lalu. :’)


Ingatan untuk dikenang

A Lovely Memory

#30DaysWritingChallenge

DAY 3 : A Memory 


A memory—sebuah ingatan yang dikenang.

Setiap hari kita mengukir cerita. Merekam banyak benda, kejadian, manusia, rasa dan beberapa hal lainnya dalam bentuk sebuah ingatan yang lambat laun akan menjadi kenangan. Hari-hari tersebut perlahan berjarak semakin jauh dari kita. 

Di antara banyak hal yang aku simpan dalam ingatan, aku cenderung lebih mudah mengenang tentang perasaan daripada kejadian atau hal lainnya. Terkadang, banyak hal dengan mudah aku lupakan, tapi tidak apabila di dalamnya memuat tentang perasaan. 

Di sini, aku akan bercerita tentang ingatan yang selalu kukenang. Tentang masa-masa indah yang sudah berlalu, tentang seseorang dan perasaan yang aku rasakan saat bersamanya. Hal yang tak akan pernah terulang kembali. 

Hal yang tak pernah kulupa adalah ketika mendengar bahwa aku adalah alasan untuk seseorang mempertahankan hidupnya, walau dalam hidupnya ia merasa sangat tersiksa dengan sakit yang ia derita. Jariku terlalu kaku untuk menuliskan siapa dia, tapi kuyakin beberapa dari kalian tahu siapa yang kumaksud. Ia adalah orang yang paling kusayang di dunia—seseorang yang darinya aku ada. Aku tak bisa mengingat dengan sempurna kata-kata yang ia ucapkan saat itu, aku juga lupa apakah aku hanya menggenggam tangannya erat atau memeluknya dengan kuat. Tetapi, aku ingat dengan pasti apa yang kurasa, bahkan sampai hari ini dan nanti. Aku yakin, aku akan tetap mengingatnya, selalu. Saat itu, aku bahagia dan terluka dalam waktu yang sama. 

Ia adalah seseorang yang mengenalkanku pada banyak perasaan. Pada rasa bahagia, rasa sedih, marah, takut, kecewa, dan segala rasa yang ada di bumi. Ia juga memberiku banyak kenangan tentang perasaan-perasaan itu. Ia mengatakan cinta tanpa perlu bersuara dan uniknya aku dapat merasakannya. Lalu, cinta tersebut tinggal di hatiku selamanya. Ingatan-ingatan bersamanya adalah hal yang tak lelah untuk terus kukenang, apalagi jika dilengkapi dengan alunan indah dari lagu yang berjudul Rumpang milik Nadin Amizah. 

Dalam ingatanku, aku menyimpan banyak rasa yang kupelajari darinya. Dari ingatanku tentangnya, aku dapat melihat semesta dan cerita-cerita di dalamnya dari berbagai sudut yang berbeda. 

Bersamanya aku merasakan banyak sekali perasaan-perasaan yang tak bisa kuungkapkan lewat lisan atau pun tulisan. Perasaan-perasaan yang sampai saat ini masih melekat dengan begitu rekat di tempat bernama ingatan, aku menyebutnya kenangan. 

A lovely memory.

 


Sebuah tulisan tentang kebahagiaan.

Hal Terbahagia

#30DaysWritingChallenge

DAY 2 : Things that makes you happy 


Jika ada yang bertanya tentang hal apa yang membuatmu bahagia, kamu jawab apa? 

Kalo aku akan mengatakan begini,

Berbicara tentang hal yang membuatku bahagia, aku kira tak akan pernah ada habisnya. Sebab, bahagia hadir dengan banyak ragamnya. Namun, saat ini yang terlintas di dalam pikiranku adalah... aku merasa bahagia ketika seseorang menyadari bahwa aku ada. Untuk kali ini, itu yang akan aku ungkapkan. 

Aku merasa benar-benar bahagia ketika ada seseorang yang selalu mengingatku dan menyadari keberadaanku, ada atau tiada aku di dekatnya. Kurasa beberapa orang juga mungkin memiliki jawaban yang sama denganku. Entah kenapa, aku merasa begitu bahagia ketika hadirku dapat melengkapi mereka. Aku merasa bahagia dan hidupku terasa lebih bermakna. 

Tampak sangat sederhana, tapi dengan begitu aku semakin yakin bahwa hadirnya aku di dunia adalah hal yang tak sia-sia. Tentunya hal tersebut membuatku bahagia, sangat bahagia. Aku benar-benar bahagia ketika seseorang menggapku ada. Banyak hal di dunia ini yang dapat membuatku bahagia, tapi hal ini adalah salah satu wujud kebahagiaan yang tak terkira.

Aku bahagia ketika hadirku dapat memberikan warna dalam kehidupan manusia lainnya. Lengkap dan sempurna, itulah yang aku rasa. Sebuah definisi lain dari kata bahagia, menurutku begitu. Aku suka ketika seseorang membutuhkanku, ketika seseorang mengatakan atau menjukkan bahwa ia juga bahagia karena aku ada di dalam hidupnya. Bahagia bukan hanya tentang hal-hal yang dapat kau lihat dan dengar, tapi juga apa yang kau rasa. Bahagia banyak bentuknya, dan sekali lagi kutegaskan bahwa aku bahagia ketika seseorang menyadari bahwa aku ada. 

Sampai di sini dulu untuk hari kedua. Lebih singkat dari yang kemarin, karena bahagia ternyata lebih mudah dirasa, tapi cukup sulit disampaikan lewat kata-kata.


Hai, ini Aku

Diriku yang Aku Kenal

#30DaysWritingChallenge

DAY 1 : Describe your personality 

Kalimat pembuka dulu, ya. Jadi hari ini aku abis nonton filmnya Kak Gitasav dan perasaanku kayak campur aduk gitu (nanti di next post bakal aku jelasin tanpa spoiler) dan di akhir film aku berpikir bahwa aku harus melakukan sesuatu (ceritanya aku tuh terinspirasi sama Kak Gita). Dan jeng... jeng... pas buka aplikasi Instagram dan lihat-lihat insta stories, aku tertahan di insta stories-nya Kak Seruni Puti (@ssseruni) dan nemuin challenge ini. Berasa nemu harta karun! Aku sedang benar-benar butuh inspirasi untuk menulis kemudian tiba-tiba menemukan challenge ini. Tanpa pikir panjang, aku langsung yakin bahwa aku akan mengikuti challenge ini. Terima kasih Kak Cuni. Ini bukan pertama kalinya aku menulis gara-gara liat insta stories-nya Kak Cuni, sebelumnya aku juga pernah menulis tentang bahasa cinta. Terima kasih Kak untuk selalu menginspirasi.

Oke, kayaknya pembukanya kepanjangan. 

Sesuai dengan tema hari ini, aku bakal nulis tentang kepribadianku. Tipe kepribadianku sendiri adalah INFP, sudah bisa dipastikan bahwa aku adalah seorang introvert. Namun, aku bukan seorang penyendiri kok. Aku nyaman berkumpul dan bergaul dengan orang lain. Dari kecil, aku juga gak pernah merasa kesulitan buat bergaul. Cuma... cuma... aku tuh gak bisa langsung akrab sama seseorang, kecuali memang menemukan orang yang satu frekuensi. Kalo memang satu frekuensi, pertemuan pertama pun akan terasa seperti sudah ratusan tahun mengenalnya. Auto akrab kuadrat pokoknya.

Hal lainnya tentang diriku adalah gak enakan. Yap, kayaknya aku sering banget merasa serba salah dan marah kepada diriku sendiri gara-gara aku tuh gak enakan. Hal ini seperti koin yang mempunyai dua sisi yang saling bertolak belakang. Di sisi pertama, aku akan lebih menghargai dan memikirkan perasaan orang lain sebelum mengambil keputusan. Namun, di sisi lainnya, aku jadi lebih sering menyakiti diriku sendiri, karena selalu menganggap bahwa perasaan orang lain dan kepentingan bersama itu lebih penting dari perasaan dan kepentinganku sendiri. Tapi, meskipun gak enakan, beberapa orang juga mungkin akan mengatakan bahwa aku egois. Ketahuilah, sebenarnya gak ada niatan sama sekali untuk bersikap demikian, tapi ada beberapa hal yang tak mungin aku jelaskan, sehingga memutuskan sesuatu sendirian. Sejujurnya, aku juga merasa bersalah karena tak dapat menjabarkan setiap alasan. Mungkin ada yang berpikir, “kok bisa sih, gak enakan tapi berbuat seenaknya?” hmmm, bagaimana ya, aku rasa manusia memang memiliki keduanya, hanya saja salah satu biasanya lebih mendominasi. 

Selanjutnya adalah aku mudah tersinggung, tetapi tak banyak yang sampai mengambil hati. Yap, begitulah. Satu hal yang aku percaya, mudah tersinggung adalah sifat alami manusia, sedangkan mengenai apakah hal tersebut sampai diambil hati atau tidak, itu adalah kuasa manusia. Aku bisa saja merasa tersinggung dan sakit hati oleh seseorang, tapi beberapa detik kemudian aku sudah tak lagi memikirkannya dan kembali lagi bersikap biasa pada orang tersebut. Kukira, beberapa orang memang kadang tak sengaja, meskipun yang lainnya kadang melakukannya dengan sengaja. 

Hmmm, kira-kira apalagi, ya? 

Oh ya, ini salah satu hal yang agak penting mengenai kepribadianku. Aku suka berada di keramaian, suka berada di antara orang-orang, suka berbincang bersama mereka, bermain bersama, bersenang-senang bersama, aku suka segala hal di mana ada orang lain di dalamnya, sayangnya bukan untuk jangka waktu yang terlalu lama. Aku perlu waktu untuk menikmati hidupku tanpa ada yang lainnya, aku perlu waktu untuk berdialog dengan diriku sendiri, aku perlu waktu untuk memahami diriku sendiri. Aku memang berteman dengan sunyi, tapi bukan berarti aku menyukai sepi. Tidak sama sekali. Aku butuh waktu sendirian untuk kembali mengumpulkan energi agar dapat kembali menjadi bagian dalam sebuah perkumpulan. 

Nah, barangkali itulah yang bisa kutuliskan tentang diriku yang aku kenal. Percayalah, satu-satunya orang yang paling mengenal kita adalah diri kita sendiri, walau kadang kebimbangan menghampiri. 

Mungkin di luar sana ada yang sama sepertiku, aku hanya ingin menyampaikan bahwa segalanya baik-baik saja.

Semoga tulisan ini sesuai dengan tema hari ini ya, wkwk. Semoga kita semua senang, selalu senang, dan akan selalu senang~




Tak sehalus awan
Apalagi selembut semilir angin 
Hanya setangkai mimosa pudica
Kecil yang ciut dan mudah layu

Lazuardi, 
Jangan risau karenanya
Sebab tak akan lama
Aku akan kembali seperti sediakala
Kuharap matamu masih sudi melihatnya

Lazuardi, 
Sekilas pun tak terlintas dalam pikiran 
Untuk bersembunyi sendirian 
Namun takdir sudah terukir 
Mimosa pudica menarik diri dengan mahir


Lebih Baik Buku Fisik atau Buku Digital?

Untuk memperingati Hari Aksara Internasional, aku akan membahas suatu topik yang akhir-akhir ini selalu hangat diperbincangkan. Pastinya topik tersebut berkaitan dengan aksara dan literasi. Kira-kira apa, ya? (padahal di judul sudah ditulis wkwk). 

Yap, tak lain dan tak bukan, topik tersebut adalah perihal pertanyaan tentang lebih baik buku fisik atau buku digital. Seiring berkembangnya zaman, pesatnya perkembangan teknologi tak dapat dihindari. Banyak terobosan baru hadir dengan tujuan untuk membuat kehidupan menjadi lebih efektif dan efisien, salah satunya yaitu dengan adanya perkembangan dari buku fisik (cetak) ke buku digital. Hmmm, jadi kamu tim mana nih? Tim buku fisik, tim buku digital, atau tim dua-duanya? Jangan sampai bukan tim keduanya ya, wkwk. 

Aku sendiri termasuk ke dalam golongan manusia yang nyaman dan suka sekali dengan keduanya. Bagiku, buku fisik maupun buku digital memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Jadi menurutku, semuanya hadir dengan porsi yang pas dan saling melengkapi. Setara. Mungkin beberapa dari kalian yang berbeda kubu denganku dan mungkin tidak setuju dengan pernyataanku, itu sah-sah saja. Setiap orang memiliki selera yang berbeda, hehe.

Dari segi kelebihan, buku fisik memiliki aroma khas yang dapat menenangkan pikiran kita dan buku fisik juga bisa dipeluk-peluk. Membaca buku fisik juga lebih mudah fokus. Kelebihan lainnya adalah bisa dikoleksi, lebih estetis dan bisa disumbangkan juga, lho. Sementara itu, kelebihan buku digital adalah mudah dibawa kemana pun kita pergi. Tentunya gak menyita banyak ruang dan lebih ringan dibawa. Biasanya buku digital juga harganya lebih murah dari buku fisik, bahkan ada juga yang bisa kita akses secara gratis, lho. Selain itu, buku digital lebih ramah lingkungan, kawan.

Untuk kekurangannya, buku fisik biasanya harganya lebih mahal, menyita banyak ruang dan gak praktis, serta kurang ramah lingkungan. Sedangkan kekurangan buku digital adalah tidak terlalu nyaman di mata (matanya jadi mudah lelah), tidak bisa dipeluk (ini sih sudah jelas), tidak ada aroma yang bisa dihirup dan ketika membacanya pun terkadang kita agak susah fokus. 

Nah, itulah kelebihan serta kekurangan dari buku fisik dan buku digital. Dua-duanya punya poin plus dan minus tersendiri, kan? 

Sekali lagi, menurutku dua-duanya istimewa dengan segala lebih dan kurangnya.

Menurutmu, gimana? 





Hidup yang Kita Keluhkan, Kisah yang Mereka Dambakan
Hidup yang Kita Keluhkan, Kisah yang Mereka Dambakan

Hidup ini lucu. Amat sangat lucu. Banyak hal yang tak pernah kita pikirkan, justru adalah yang paling membahagiakan. Kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang datang dan membuat kita senang. Aku suka, suka sekali, dengan bagaimana Tuhan bekerja, dengan kata bahagia yang sama sekali tak pernah kuberniat untuk mengejanya. 

Hari ini aku menyadari satu hal penting lainnya. Satu hal yang mungkin sudah tak asing. Satu hal yang memang sebelumnya pernah kusebut-sebut dalam setiap kata yang aku suarakan maupun yang aku tuliskan. Satu hal yang berulang kusadari, tapi bahagianya selalu tanpa henti. 

Satu hal itu adalah kalimat klise yang sering kita semua dengar, tentang hidup yang kita keluhkan, ternyata merupakan kisah yang mereka dambakan. Aku bahagia, sekaligus dirundung rasa bersalah karena terkesan baru menyadari Rahmat-Nya. Aku terlalu banyak mengukur, kurang bersyukur. 

Selama ini banyak jalan kulalui dengan cemas hati dan ketakutan tanpa henti, banyak jalan yang membuatku berpikir bahwa percuma berlari jika pada akhirnya kaki ini tidak tahu di mana harus berdiri. Namun, kali ini aku merasa sesuatu lain menggelora di dalam jiwa, sebuah rasa yakin dan percaya. Kekuatan yang kudapatkan dari mereka yang hadirnya bahkan tak pernah kuminta. 

Di mata mereka, hidup yang kukeluhkan, ternyata merupakan kisah yang mereka dambakan. Aku tak tahu harus berkata apa, terharu dibuatnya. Dari sinilah, titik awal akan dimulai. Titik awal untuk mensyukuri segala apa yang terjadi dan dimiliki. 

Sifat alamiah manusia memang selalu merasa kurang, untuk itu kita perlu menengok ke arah lain agar mampu kembali menemukan rasa tenang.


Manfaat Menulis yang Harus Kita Ketahui

Kalo beberapa waktu lalu aku sempat menulis tentang manfaat membaca, kali ini aku akan menulis manfaat menulis. Gak bisa dipungkiri ya, menulis itu menjadi suatu hal yang akrab banget sama kehidupan sehari-hari kita. Pernah gak sih, kamu sehari saja gak menemui tulisan? Gak pernah, kan? Kecuali kalo kamu hidupnya di masa praaksara atau sedang melakukan pengasingan di hutan belantara. 

Apa saja si manfaat menulis itu? Emang menulis itu penting banget? Pertanyaan semacam ini pernah terlintas gak di pikiran kamu? 

Tahu gak sih, menulis itu sangat bermanfaat, terutama bagi kesehatan kita. Wah, kira-kira manfaatnya apa aja, ya? Yuk, simak poin-poin di bawah ini.


1. Meningkatkan Kreativitas

Menulis secara tidak langsung akan membuat tingkat kreativitas kita bertambah, lho. Dengan menulis, kita akan mencari dan menemukan ide. Bukan hanya itu saja, setelah kita mendapatkan ide, maka kita juga dituntut untuk mengolah ide tersebut menjadi sebuah pembahasan yang menarik untuk ditulis. Apalagi terkadang banyak sekali ide-ide baru yang berkaitan dengan topik yang kita bahas bermunculan begitu saja ketika kita sedang mengolah ide awal tersebut. Greget, kan? Topik yang kita bahas jadinya melebar ke sana kemari, sedikit ngawur dan banyak tidak jelasnya (kayak tulisan ini). Nah, disinilah ujian untuk kreativitas kita, karena kita dituntut untuk mengolah kembali ide-ide tersebut menjadi sebuah tulisan utuh. 

2. Tempat Menuangkan Emosi atau Perasaan

Dengan menulis kita dapat menumpahkan segala emosi yang kita rasakan tanpa ada hambatan. Senang, sedih, marah dan berbagai emosi lainnya yang tidak mungkin kita ceritakan kepada orang lain, akan lebih melegakan apabila kita tumpahkan ke dalam tulisan. Kepada kata-kata, kita akan jauh lebih terbuka dan jujur dalam bercerita. Bisa dicoba langsung ketika kamu merasa tidak ada satu pun orang yang mampu diajak berbicara. Tulis semua perasaanmu tanpa ragu. 

3. Memperkuat Daya Ingat

Ketika menulis otak kita pun ikut bekerja, jangan lupa! Bukan tangan saja yang kerja, hehe. Nah, jika otak kita sering digunakan, hal itu akan membuat otak kita terus bekerja dan menerima banyak informasi baru. Dengan begitu, otak akan selalu aktif dan daya ingat pun akan tetap aktif. Hal tersebut dapat mencegah atau mengurangi kepikunan. Salah satu bukti nyata yang aku rasakan dan berkaitan erat dengan hal ini adalah ketika aku menulis materi yang kupelajari, maka materi itu akan kuingat lebih lama, dibandingkan dengan materi yang kubaca saja.

4. Meningkatkan Kemampuan Berbahasa

Menulis membuat kita terlatih untuk memilah kata-kata mana saja yang pas untuk menuliskan apa yang kita maksud. Hal itu membuat kita terbiasa untuk berpikir sebelum menulis, tentang bagaimana baiknya topik itu kita sampaikan dan apakah bahasa yang kita gunakan telah sesuai dan mudah dipahami oleh orang lain. Secara tidak langsung, dengan rutin menulis kita jadi seorang pemerhati bahasa. Hal itu membuat kemampuan berbahasa kita jadi lebih meningkat. 

5. Menghasilkan Uang

Nah, menulis tidak hanya untuk sekadar keperluan tugas, hobi, dan bikin caption saja lho. Menulis juga dapat dijadikan suatu profesi. Yap, sudah banyak sekali profesi yang memerlukan keterampilan dalam menulis, misalnya jurnalis, content writer, penulis novel, dan profesi lainnya. Gak cuma buang-buang energi ya, hehe. 


Itulah beberapa manfaat menulis yang harus kita ketahui. Luar biasa, ya? Yuk, mulai sekarang rajin menulis! 


 

Mengenal Bookstagram

Bagi kalian pecinta buku, pasti sudah tidak asing lagi mendengar atau membaca istilah bookstagram. Nah, kalian udah tahu belum sih, apa itu bookstagram? Singkatnya, bookstagram adalah akun-akun di instagram yang rutin memposting segala hal yang berkaitan dengan buku. 

Apa saja sih yang biasanya diunggah oleh akun bookstagram itu? Macem-macem. Untuk fotonya sendiri, biasanya para bookstagram itu mengunggah potret buku-buku mereka dan pernak-pernik khas perbukuan, seperti bookmark. Ada juga yang menggunakan properti untuk mempercantik tampilan fotonya. Sementara itu untuk takarirnya (caption), beragam juga, lho. Ada yang menuliskan review buku, ada yang menulis quotes, ada yang curhat tentang masalah hubungan mereka dengan si buku, ada yang berisi buku-buku rekomendasi, dan masih banyak lagi hal lainnya. Pokoknya, bookstagram adalah tempatnya para pecinta buku menyalurkan rasa cintanya. 

Apa aja sih yang diperlukan untuk menjadi bookstagram? Hmmm, niat. Yap, yang paling utama adalah niat, tanpa niat semua itu tidak akan pernah terwujud. Aku sendiri sudah lama tertarik dengan bookstagram, sudah sejak beberapa tahun lalu, hanya saja mulai rutin memposting buku tuh baru beberapa bulan ini. Jujur, aku kaget dan seneng banget waktu balik lagi ke dunia bookstagram dan menemukan banyak akun bookstagram Indonesia baru yang kece-kece. Padahal, dulu tuh bookstagram Indonesia masih sedikit. Jadi nyesel gak mulai dari dulu, wkwk. Eh, sebenarnya aku termasuk bookstagrammer gak sih? Semenjak foto di akunku berubah jadi buku semua, anggap saja aku bookstagrammer ya, wkwk.

Hal utama lainnya adalah buku dan smartphone! Untuk bukunya sendiri, gak harus selalu buku fisik kok, buku digital juga oke. Oh ya, untuk berhemat, kamu juga gak perlu untuk selalu membeli buku terus-menerus, pinjam juga bisa, lho! Dan untuk memotret dan mengunggah bukunya, jangan lupa smartphone, wkwk. Smartphone saja, kamera tidak? Itu semua tergantung kepadamu~ tapi, kalo gak punya kamera, memotret menggunakan smartphone pun tak kalah bagus hasilnya. Aku sendiri juga menggunakan smartphone, kok. 

Apa manfaatnya menjadi seorang bookstagrammer? Banyaaak. Bookstagrammer atau orang-oang yang berada di balik akun bookstagram akan mendapatkan banyak manfaat, lho. Pertama, hobi kita dapat tersalurkan dengan baik. Kedua, akan mendapat banyak sekali informasi tentang dunia perbukuan, termasuk mendapat rekomendasi buku-buku bagus. Ketiga, kita dapat membantu meningkatkan minat baca orang-orang yang mengikuti atau tertarik dengan akun kita (percayalah, virus membaca itu menular~). Keempat, kita bisa mendapat banyak kenalan baru dan tentunya memiliki ketertarikan yang sama terhadap buku-buku, hal itu tentu saja membuat kita akan mudah berdiskusi tentang buku bersama mereka. Dan, masih banyak hal menyenangkan lainnya. Asyik banget, kan?

Kalo kamu tertarik sama dunia bookstagram, yuk segera mulai untuk membangun akunmu! Dijamin, hal ini bisa jadi media hiburan untukmu! Seru banget pokoknya.❤

Untuk mencari insiprasi dalam potret-memotret dan caption-nya, bisa kunjungi akun @bookstagramindonesia di sana banyak sekali foto-foto keren dari teman-teman bookstagram yang juga memiliki caption yang mampu membuat kita tertarik untuk membacanya sampai kata terakhir.

Jangan lupa mampir ke akunku ya, hihi

@deefesef


Itulah sekilas tentang bookstagram, semoga informasi singkat ini bermanfaat, ya. Mohon koreksinya juga jika ada kesalahan. 


Lazuardi: Melengkapi


Dari keraguan perlahan jadi pasti 
Kita bertaut layaknya langit dan matahari
Mencoba saling ada untuk melengkapi
Aku adalah air untukmu yang api
Kamu adalah ramai untukku yang sepi

Lazuardi, 
Tuhan menciptakanmu dengan segala cinta
Menjadikanmu manusia yang seolah tanpa cela
Menyempurnakan aku yang banyak kurangnya

Lazuardi, 
Birumu kini jadi warna kesukaanku
Warna yang kupikirkan sepanjang waktu
Sesuatu yang selalu kupandangi tanpa jemu

Lazuardi, 
Tetaplah di sana, di langit yang luasnya luar biasa. Menjadi atap bagi duniaku yang lebih berwarna, sejak kamu ada.
September


Ada waktu-waktu tertentu yang membuatku merasa utuh. Waktu yang aku suka, selalu, tak pernah tidak. Aku menyukai Desember, karena hujan, kenang dan tenangnya. Aku suka Juni, karena hujan juga hadir di sana, menemui bumi dengan amat romantis dan penuh harap. Dan, aku juga menyukai September karena cahaya matahari hangatnya dan daun-daun yang mulai kering dan berguguran.

Namun, di sini aku hanya ingin menuliskan tentang September. Aku tak tahu sejak kapan mulai menyukainya, tapi aku tahu bahwa ada sesuatu yang membuatku merasa bahagia setiap kali September tiba. Barangkali karena sinar matahari sedang indah-indahnya, dan pohon tak ragu melepas daun lama untuk menggantikannya dengan yang lebih indah kemudian. 

Dan sepertinya, yang paling kutunggu dari September adalah ketika daun-daun itu mulai menyerahkan dirinya sendiri pada tanah. Daun-daun itu mengerti bahwa ia harus siap mengalah demi pucuk-pucuk baru yang akan merekah. 

Di samping itu semua, tak lengkap rasanya bila berbicara tentang September tanpa menyebutkan namanya, seseorang yang darinya inspirasi bersumber. Aku tak yakin, apakah ia menyukai September seperti aku, atau lebih besar, atau mungkin juga tidak menyukainya sama sekali. Aku tak tahu pasti. 

Yang kutahu, dia seperti Pohon di September. Sebab, ia tak ragu melepas daun-daun lama yang mulai kehilangan pesona warnanya dan dengan sabar akan senantiasa menunggu daun baru yang pasti lebih indah dari daun lalu. Dan hal itu yang membuatnya lebih indah di mataku. Selain seperti pohon, ia juga seperti sinar matahari hangat yang hadir di pagi hari. Sinar yang tak ragu kutunggu, sebab bukan hanya hangatnya yang menarik bagiku, tapi juga warnanya yang cerah keemasan itu seolah mampu membiusku untuk terus menjadikannya sebagai candu. 

Dari itu semua, aku menginginkan satu; aku ingin dia tetap menjadi Septemberku yang tak banyak sendu. Aku berharap semoga dia seceria September, sekuat pohon melepaskan daun-daun di September, sehangat sinar matahari di September, dan seperti hal-hal baik lainnya yang hadir di September. 

September to remember. Forever. 


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

TEMUKAN SAYA

TERPOPULER

  • BDHK: Setelah Hari Itu #3
  • BerbicaraTentangBuku: Angin Bersyair karya Andrei Aksana
  • Lazuardi: Lebih Baik Selesai
  • BerbicaraTentangBuku: Novel The Magic Library (Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken) karya Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup
  • Neverland dan Moors
  • Peran
  • Cara Membedakan Buku Asli dan Bajakan
  • Kumpulan Quotes dari Novel Pride and Prejudice Karya Jane Austen
  • Gagal dari Awal
  • BerbicaraTentangBuku: Stories for Rainy Days

KATEGORI

  • #30DaysWritingChallange 10
  • Cerita 24
  • Cerita Bersambung 2
  • DAY 1 : Describe your personality 1
  • Lazuardi 2
  • Puisi 5
  • Serba-serbi Perbukuan 15
  • Tentang Film 5
  • Tentang Kehidupan 42
  • Ulasan Buku 18
Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
deefesef
Hi, Devi di sini! Menuliskan apa yang tidak akan pernah dia baca, juga menulis tentang berbagai rasa dan tanya, serta banyak hal lainnya.
Lihat profil lengkapku

ARSIP

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  Oktober (1)
      • Sang Alkemis—Mengembalikan Mimpi yang Sempat Hilang
  • ►  2023 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2020 (85)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (27)
    • ►  Agustus (16)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (9)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)
  • Beranda
  • Rangkaian Kata
  • Ulasan Buku

© - Devi Sofiyanti | Designed by OddThemes