Between Words | Devs


Berbicara tentang buku 
Sesuatu yang selalu memberikan banyak hal baru.

Sekilas tentang kumpulan cerpen metropop Autumn Once More
Judul : Autumn Once More
Penulis : AliaZalea, Ilana Tan, Ika Natassa, dkk.
Jumlah halaman : 232 halaman
Tahun terbit : Cetakan ketiga, Mei 2013
ISBN : 978-979-22-9471-2
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

            Tampilannya lucu dengan cover warna merah berpadu kuning dan putih. Terdapat gambar pohon dengan daun berbentuk love. Lucu banget! Bisa dilihat tampilannya di foto yang ada di bawah ini


Di dalamnya terdapat tiga belas cerpen yang berisi tentang cinta. Bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang kepedihan. Berikut ini daftar judul dan pengarangnya.
1.      Be Careful What You Wish For (AliaZalea)
2.      Thirty Something ( Anastasia Aemilia)
3.      Stuck with You (Christina Juzwar)
4.      Jack Daniel’s vs Orange Juice (Harriska Adiati)
5.      Tak Ada yang Mencintaimu Seperti Aku (Hetih Rusli)
6.      Critical Eleven (Ika Natassa)
7.      Autumn Once More (Ilana Tan)
8.      Her Footprint on His Heart (Lea Agustina Citra)
9.      Love is a Verb (Meilia Kusumadewi)
10.  Perkara Bulu Mata (Nina Addison)
11.  The Unexpected Surprise (Nina Andiana)
12.  Senja yang Sempurna (Rosi L. Simamora)
13.  Cinta 2 x 24 Jam (Shandy Tan)

Semua cerita memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri dengan berbagai konflik kisah cintanya. Para penulisnya memiliki ciri khas masing-masing dalam menuliskan kisah-kisah yang tergabung dalam cerpen tersebut. Ada yang menggunakan bahasa yang sering kita gunakan sehari-hari, ada pula yang memakai kata-kata puitis yang perlu dipahami maknanya terlebih dahulu. Namun yang paling membuat jatuh hati adalah cerpen yang berjudul Tak Ada yang Mencintaimu Seperti Aku, Critical Eleven, dan Senja yang Sempurna. Kisah-kisah yang mampu menyadarkan tentang arti cinta.

Nah, di sini akan kutulis salah satu kisah dari cerpen-cerpen tersebut.

Tak Ada yang mencintaimu Seperti Aku

Cerpen ini mengisahkan tentang seorang lelaki yang begitu mencintai kekasihnya. Namun sayangnya, cintanya yang terlalu berlebihan itu justru membuat kekasihnya merasa sesak dan tidak tahan untuk melanjutkan hubungannya. Ironisnya, perempuan itu pun mengatakan bahwa sebenarnya ia tak pernah mencintainya dan semua janji-janji hanyalah kebohongan belaka. Hal  itu pula yang mengingatkannya pada luka lama dan kembali mengingat perkataan ayahnya sebelum ayahnya dibawa oleh polisi bahwa perempuan memang tak bisa dipercaya, mereka semua pembohong. Meski demikian, ia selalu mengikuti kemana pun perempun itu pergi dengan hati hancur dan perasaan terkoyak. Menurutnya, perpisahan dengan perempuan itu bukanlah takdir. Takdir adalah mereka harus bersama selamanya dan ia bersedia untuk menunggu perempuan itu sadar kembali bahwa hanya dia yang bisa mencintainya sebesar cintanya pada perempuan itu. Namun, rambut perempuan itu yang mirip dengan rambut ibunya membuatnya takut. Takut ketika menyadari bahwa ibunya juga benar ketika berkata pada ayahnya pada malam penuh darah itu, Tak ada seorang pun yang mencintaimu. Tak ada. Sampai kapan pun. Dan dia hanya ingin kegilaan ini berakhir.

Inilah sekilas tentang Autumn Once More. Kisah-kisah di dalamnya sangat menarik karena menggambarkan cinta dari berbagai sudut pandang. Kebahagiaan, kepedihan, kegalauan, dan kerinduan tertulis di buku ini.

           






yang datang dan yang hilang

Sebelum sampai di hari ini, tentu saja kita pernah melewati hari-hari yang membahagiakan, menyedihkan, menjengkelkan, dan hal-hal lain yang beberapa sudah mulai memudar dari ingatan.

Setiap perjalanan, tentunya akan selalu ada kawan. Sosok yang mendengarkan dan selalu memberi dukungan, meski kita kemudian berbeda tujuan. Dipertemukan dan dipisahkan oleh jalan.

Masih ingat siapa saja yang pernah menemanimu berjuang menghadapi kerasnya kehidupan?

Barangkali kamu lupa. Sebab, yang pergi hilang begitu saja, lalu yang datang masuk tanpa sapa. Seolah tak ada yang berbeda. Seolah tiada yang hilang dan baru datang. Kamu tentu saja tak menyadarinya. Kamu sibuk dengan urusanmu sendiri.

Untuk kali ini aku tidak ingin membahas perihal yang baru saja tiba, melainkan yang perlahan mulai kamu lupa.

Di sela waktu sibukmu itu, aku ingin mengajakmu mengenang yang lalu. Yang tanpa sadar sudah berjalan jauh dari hidupmu. Dia adalah temanmu. Teman masa kecilmu. Teman yang tak segan meneriakkan namamu di depan pintu, saat kamu pura-pura terlelap karena tak ingin mengikuti permainan yang tak menyenangkan bagimu. Teman yang selalu mengajakmu bermain sampai lupa waktu. Teman yang selalu mengganggu saat kamu sedang melakukan sesuatu. Teman yang bahagianya sesederhana mendengar tawamu.

Teman yang kini mungkin juga telah melupakanmu. Dia tak pernah berniat untuk itu, tapi waktu tak pernah mau tahu. Waktu tak pernah mengizinkan seseorang terjebak dalam lingkar masa lalu, oleh karena itu, ia selalu mengajak untuk terus berputar mencoba hal-hal baru. Hal-hal baru itu termasuk segala tentang kisah masa kecilmu yang digantikan kisah baru.

Apakah kamu pernah merindukannya? Merindukan saat kalian berkumpul bersama penuh canda tawa, bahkan terkadang air mata. Semua itu sekarang telah jauh. Jauh tertinggal di belakang sana. Kita semakin dewasa, semakin melupa. Namun, tanpa sadar hal itulah yang menjadikan kita manusia.

Mengajarkan ketulusan tanpa berharap imbalan.

Jika sudah begini, bagaimana?

Jangankan kembali menghabiskan waktu bersama, bertegur sapa pun langka.
Berpapasan tanpa sengaja jadi salah satu momen istimewa, sebab biasanya hanya saling melihat kehidupan satu sama lain lewat layar saja.

Semua berubah. Semua berpindah.
Setiap mengingat mereka, seperti ada luka yang tiba-tiba menganga,
pedahal, dulu itulah yang paling membuat bahagia.

Apa kabar kalian semua?
Indah ya, masa-masa saat kita bersama. Saat dunia masih belum banyak drama.

Sebagai penutup akan kutuliskan lirik lagu Sahabat Kecilku yang dinyanyikan oleh Gita Gutawa. Lagu yang akan selalu mengingatkan akan kebaikan para teman yang pernah menemani di fase awal kehidupan.


Kau jauh melangkah
Melewati batas waktu
Menjauh dariku
Akankah kita berjumpa kembali 
Sahabat Kecilku
Masihkah kau ingat aku
Saat kau lantunkan
Segala cita dan tujuan mulia
Tak ada satupun masa
Seindah saat kita bersama
Bermain-main hingga lupa waktu
Mungkinkah kita kan mengulangnya... 
Tiada... Tiada lagi tawamu
Yang slalu menemani segala
Sedihku...
Tiada... Tiada lagi candamu
Yang slalu menghibur disaat
Ku lara... 
Bila malam tiba
Ku slalu mohonkan doa
Menjaga jiwamu
Hingga suatu masa bertemu lagi 
Tiada... Tiada lagi tawamu
Yang slalu menemani segala
Sedihku...
Tiada... Tiada lagi candamu
Yang slalu menghibur disaat
Ku lara... 
Masihkah kau ingat aku...

Alasan.

Tentang sebuah titik yang tak juga mengakhiri kalimat.

Matamu, sesuatu yang mustahil kutatap lagi.
Hadirmu hanya nyata di ruang imaji.
Kata temu bila disandingkan dengan kamu, ialah yang akan selalu kuhindari.

Sepenggal kata di atas barangkali sedikit mewakili kegelisahan dalam diriku, meski hanya sedikit. Sedikit, kutegaskan sekali lagi. Rasa gundah yang tak tahu kapan akan berhenti. Entah sudah berapa kali kalender di kamarku berganti. Tetap saja ada yang tak mampu kutinggal pergi. Selalu mengikuti.

Jujur, jika ada tombol untuk mengakhiri, tanpa ragu akan segera kuhampiri. Aku ingin semua ini segera usai cukup sampai di sini. Tak ingin lebih lama lagi terbebani dengan hal-hal yang mungkin sudah tak berarti. Walaupun jauh di dalam benakku, ingin rasanya membuat hal itu menjadi sesuatu yang abadi. Namun, ternyata hanya pilu yang rajin menemani. Sudahlah, tak harus ada yang tersisa di ruang yang tak mungkin lagi ditempati.

Itulah mengapa banyak jumpa kulewatkan. Kegundahan yang jadi jawaban dari pertanyaan yang tak pernah kamu lontarkan, tapi diam-diam aku harapkan. Rasa resah yang tak pernah bosan mengajakku untuk hanyut dalam aliran kenangan, lalu menenggelamkan dalam ribuan hal yang seharusnya tak pernah lagi singgah di pikiran.

Kamu baragkali tidak pernah berpikir sejauh ini.
Jelas, kamu tidak lagi peduli.
Bagaimana pun, kita hanya tumpukan memori.
Tapi aku terlalu terobsesi.
Hingga seringkali tak kuasa dipermainkan emosi.
Terperangkap, lalu merasa asing sendiri.

Dari sekian kata yang kutulis di atas, apakah kamu bisa mengerti bahwa alasanku adalah tentang ketidakmampuanku dalam menghapus kamu. Hal yang seharusnya aku lakukan jauh-jauh hari sebelum hari ini. Kamu harus tahu bahwa hal itu menjadi kegelisahan yang sangat membuatku merasa tidak aman. Tapi, sayangnya kamu tak pernah bertanya perihal itu, sehingga jawabanku pun mungkin tak akan pernah sampai kepadamu. Yang tak meminta, terkadang akan merasa biasa saja jika diberi. Sebab, tak ada yang ia inginkan. Lalu, apa yang harus diapresiasi?

Apakah kamu juga sama?

Sungguh, aku tak keberatan jika kamu berkata bahwa tak perlu alasan, karena apa yang telah terlewatkan hanya tinggal dalam ingatan. Tak seharusnya diungkit pada rasa tenang yang kini sudah didapatkan. Terlalu menyakitkan. Lagi pula, kita sudah menemukan kesenangan masing-masing.

Memang.

Namun, entah mengapa aku merasa ingin menuliskannya. Sebab, ia keterlaluan. Mengganggu tidurku semalaman, datang disaat tengah nyaman berbincang dengan teman, bahkan hadirnya akan lebih sering jika sedang tak ada yang dikerjakan. Aku tak mampu lagi menahan. Hari ini sengaja kulepaskan.

Katamu ini berlebihan? Aku tak menyalahkan. Memang kenyataan.

Kamu diam saja. Tidak perlu bicara. Tak perlu bersuara. Kukira kamu pun tak berminat melakukannya. Sudah, maafkan aku yang mudah terbawa suasana.

Hanya ini yang kusampaikan.

Dari sekian banyak kegelisahan yang memaksa untuk dicairkan lewat tulisan.

Sebuah tulisan untuk menutup lembaran kisah di 2019.




Dunia sibuk.

Aku duduk memperhatikan orang berlalu lalang. Mereka sibuk dengan perannya masing-masing. Beberapa ada yang melintas sambil tersedu dengan langkah berat. Beberapa tertawa lepas karena lelucon yang lucunya tak seberapa. Beberapa melintas dengan senyum merekah tanpa sedikit pun mengeluarkan suara, seolah ada kebahagiaan yang sulit diucapkan kata-kata. Di sudut lain, ada seseorang yang menangis histeris karena seluruh harapannya sirna. Di depanku seseorang tak henti-hentinya mengucap syukur dan meneteskan air mata, seperti bahagianya nyaris sempurna. Ada juga yang melintas dengan wajah cemas, meski banyak pula yang melintas sambil menyeret, memikul, mendorong semua beban mereka dengan senyum menghias wajahnya. Ada yang pada akhirnya pasrah, ada yang bahkan enggan untuk menyerah.

Mereka berjalan seolah tak peduli dengan satu sama lain, beberapa sejenak memperhatikan lalu kembali sibuk dengan seribu urusan, sedikit yang mengamati dan duduk di sisi untuk berbagi senyuman, tawa, dan tangis yang menyelimuti.

Ah, entahlah.
Semua sibuk dengan suka dan dukanya. Dengan drama yang begitu banyak genrenya.

Sedang aku, hanya berdiamkah?

Bisa jadi begitu.

Namun, dalam kepalaku berkecamuk segala pemikiran-pemikiran yang terkadang sulit dimengerti oleh diriku sendiri. Dari mana asalnya? Tak tahu pasti.
Aku memendam. Aku tak hanya berdiam. Aku mengamati apa yang terjadi.
Dari sekian banyak wajah yang kutemui, diam-diam aku bertanya dalam hati. Apakah mereka tak seperti apa yang nampak itu? Sebab, diriku pun tak seperti apa yang kutampilkan. Mungkinkah mereka menangis seolah sengsara, tetapi sebetulnya bahagia, hanya saja mereka tak mampu menyadarinya? Atau justru mereka tersenyum seolah bahagia, namun menyimpan luka yang sakitnya tak terkira, sebab nanar ada di matanya. Ah, aku semakin bimbang.

Apakah aku, apakah kamu, apakah dia, sudah menjadi yang sebenarnya atau masih senang memendam dan menyembunyikan?

Sudahlah, tak apa jika memang kita masih belum dapat terbuka. Orang-orang banyak yang tidak peduli pula. Hanya beberapa jika ada.

Untuk kita, untuk segala yang tak dapat tersampaikan dengan sempurna, berterima kasihlah pada diri yang selalu berusaha menjadi teman setia di segala cuaca. Tangis dan tawa.

Mungkin tak ada teman untuk berbagi, tapi mampu mengatasinya seorang diri. Hebat.
Namun, di balik itu semua, mereka bukan tak peduli pada apa yang terjadi, mereka hanya sibuk menghadapi dirinya sendiri. Jangan salahkan mereka meskipun tak turut menyembuhkan luka dan menemani ketika berbagi bahagia.

Kita hanya manusia.

Tak bisa sempurna.








Untuk seseorang yang perlahan menghilang,

Selamat hari rabu, sudah lama sekali aku tak pernah mendapat kabar tentang keadaanmu. Di mana kamu hari ini? Di tempat yang jauh dari sini, ya?

Kamu menghilang, kita menjadi begitu asing. Aku tak tahu bagaimana lagi caraku agar bisa mengetahui bahwa kamu baik-baik saja hari ini.

Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu aman. Tiada yang menyakitimu seperti aku.

Semoga harimu menyenangkan. Oh, ya, apa yang kamu pikirkan tentang aku hari ini? Apa kamu pikir aku bahagia telah melepaskanmu? Jawabannya, tidak. Tidak.

Aku tak pernah sedikit pun ingin beranjak dari kamu. Tidak. Hanya saja aku harus dapat melindungimu, dari diriku. Aku tak ingin membuatmu terus bersedih karena bersamaku. Aku tak pernah berniat untuk meninggalkanmu.

Aku memutuskan pergi karena tak ingin terus menyakiti. Aku tak ingin keanehan sikapku membuatmu tersakiti. Aku bukan seperti mereka, yang dengan mudahnya mampu menunjukkan rasa cintanya. Aku tak pernah bisa seperti itu. Aku tak pernah bisa menjadi apa yang kamu mau. Aku tak ingin membuatmu berharap begitu banyak padaku, yang jelas-jelas tak mampu memberi sedikit pun.

Aku ingin kamu, hanya kamu, tetap kamu, selalu kamu.

Tapi aku sadar, kamu sudah tidak mau. Dan aku sudah tidak mempermasalahkan itu. Jika bukan kamu, mungkin seseorang yang bukan kamu akan mampu mengerti aku seperti yang kamu lakukan dulu.

Mungkin kamu kecewa pada keputusanku hari itu, tapi hanya itu yang aku mampu. Aku percaya bahwa di luar sana akan ada seseorang yang dapat mengerti kamu melebihi aku. aku percaya bahwa di luar sana ada orang yang akan setia menemanimu. Tak seperti aku.

Ini sudah kedua kalinya aku melakukan hal yang sama. Melepaskan orang-orang yang membuatku bahagia, hanya karena aku tak ingin membuatnya terluka.

Maaf yang tak tehingga untuk hal itu.
Aku tahu bahwa caraku salah. Tapi, hanya itu yang membuatku berhenti resah.
Bukan salahmu. Kamu tak pernah melakukan kesalahan apapun. Bagiku kamu sempurna.
Bukan pula aku tak punya rasa yang sama. Aku juga rasa, apa yang kamu rasa.
Hanya saja aku belum mampu mengendalikan kebebasanku, aku masih belum mampu bersepakat dalam suatu ikatan. Maaf.
Aku tahu hal itu menyakitimu. Tapi, aku juga menyakiti diriku sendiri.

Melepas genggaman tangan yang pernah erat,
Kemudian membangun sekat,
Lalu diujung kalimat,
Aku menyebutnya tamat.

Bodoh memang, namun sekarang aku mulai belajar untuk menghargai apa yang aku punya dan mulai membiasakan diriku dengan ikatan, agar kelak aku tak akan lagi mengecewakan seseorang.

Untuk kamu,
Terimakasih, sebab pernah datang.



Hilang

Tak pernah terdengar lagi orang menyebut namanya, apalagi mendengar suaranya.
Dia tidak di sini, tempat kami telah berbeda.
Dia dengan dunianya, aku pun di sini dengan duniaku.

Tentangku di hidupnya hanya tinggal sebuah nama dengan cerita, tak lebih. Namun, tentangnya di hidupku lebih dari itu. Entah mengapa aku selalu menganggap dia lebih dari seharusnya. Meski di mataku dia tak pernah lagi bercermin. Di telingaku, ia tak pernah lagi bersuara. Tapi di pikiranku, ia selalu berhasil menjadi sesuatu yang tak pernah kulupa.

Ingin sekali sehari saja tidak mengingatnya. Sayangnya, itu terlalu sulit.

Ia selalu muncul sesaat setelah aku memejamkan mata. Seolah dekat, namun tak pernah bertatap. Jauh, namun selalu ada.

Aku pikir ini gila.

Tapi aku terlalu berlebihan jika mengatakan ini gila, sebab di luar sana banyak orang yang mengalami hal serupa. Banyak temu palsu yang sengaja dihadirkan rindu di mimpimu. Begitu kan?

Bayangkan, jika ia terus menghantui tanpa pernah menemui.

Mungkin akan banyak sekali tulisan yang mewakili.

Semakin lama, semakin tak terkendali.

Entahlah. Aku heran, mengapa aku tak pernah bosan menjadikannya sebagai bahasan.

Harusnya aku mengerti bahwa sebanyak apapun tulisanku, tak pernah ada satu pun yang akan dia baca. Harusnya aku mengerti sebanyak apapun tulisanku, tak akan pernah membuatnya mengerti. Harusnya aku mengerti sebanyak apapun tulisanku, tak akan pernah membuatnya kembali.

Tak ingin memiliki, tapi ingin dia ada di sini.

Aku hanya ingin itu. Tapi kenapa harus serumit ini?

Entahlah. Kami telah berbeda.
Tak lagi satu.
Kami adalah dua berbeda
Yang melepas diri dari kata satu.










Sesuatu yang kau sebut utuh.

Kita terlalu.

Berlebihan.

“Aku setengah, sedang kamu tiga per empat.” Kataku.

Kamu tersenyum. “Bukankah itu tak masalah? Kita lebih dari penuh.”

“Oleh sebab itu, kita bermasalah.”

“Bagaimana bisa?”

“Sesuatu yang kurang, itu buruk. Yang seimbang, itu pas. Namun, kita lebih. Terlalu. Itu tidak baik.”

Aku berhenti berbicara.

Kamu melakukan hal yang sama. Kita hening.

Harusnya kamu tahu bahwa yang dibutuhkan di sini bukanlah siapa yang memberi lebih, melainkan yang saling melengkapi dengan porsi yang sama, agar tak terjadi ketimpangan. Jika aku satu per empat dan kamu tiga per empat, mungkin kita akan utuh, tapi aku takkan pernah merasa penuh. Begitu pun sebaliknya.

Berbeda apabila kamu setengah dan aku pun setengah. Biar tak ada yang merasa paling hebat diantara kita. Biar tak ada yang merasa kurang diantara kita. Biar kita cukup. Saling mengisi.

Dan bagiku kamu banyak kata terlalu.

Dalam warna pun begitu.
Kamu terlalu abu untuk aku yang ragu,
Kamu terlalu biru untuk aku yang pilu,
Kamu terlalu hitam untuk aku yang muram.
Jangan tambahkan bunga yang berguguran, sebab aku takkan berubah pikiran.
Kita banyak kata ‘terlalu’ sehingga sulit menyatu.

Berlebihan.
Jika abu, biru, hitam yang terlalu pekat membentuk gelap, apa yang bisa kudapat?

Sendu. Sedih.

Kelam.
Kita buram.

Bayangkan jika kamu memberikan warna-warna itu sesuai porsinya. Tidak terlalu gelap. Mungkin ketenangan yang akan kudapat. Namun, lagi-lagi kamu selalu memberiku yang ‘terlalu’ banyak.

Kita saling mengisi, namun kamu selalu mendominasi.

Tak utuh.
Sebab terlalu penuh.



Untuk Diriku, 
Terimakasih untuk segala bahagia yang kau cipta, maaf untuk setiap luka yang terasa.

Diriku, 
Harus kamu ketahui bahwa setiap perjalanan yang kita lalui adalah sebuah petualangan yang paling berharga. 

Terimakasih untuk selalu memeluk erat saat dunia bahkan enggan untuk sekedar melihat. Terimakasih untuk segala tawa disaat duka dan luka mendera tanpa jeda. Terimakasih untuk segala sabar saat segalanya terasa hambar. 

Maafkan diri ini yang terkadang dengan sengaja melukaimu, hanya untuk melihat orang lain bahagia. Harusnya aku tahu bahwa kamu juga punya perasaan yang harus aku jaga. Sebab, jika bukan aku yang menjaganya, siapa lagI? Kamu adalah aku, setiap hal yang terjadi padamu adalah tanggungjawabku. 

Maaf untuk selalu membanding-bandingkanmu dengan yang lain. Pedahal aku tahu bahwa setiap individu memiliki jalan dan pencapaian yang berbeda.

Maaf untuk selalu memaksamu memahami, apa yang tak mampu kau mengerti. 

Terkadang aku merasa kamu lamban, tapi akulah yang terlalu ambisius. 

Sekali lagi, maaf.

Maaf untuk membuatmu terus bekerja saat lelah.
Maaf untuk membuatmu menangisi hal-hal konyol. 
Maaf untuk menyalahkanmu ketika gagal. 
Maaf untuk makanan tak sehat yang kumakan.
Maaf untuk kebiasaan buruk yang sulit dihentikan.

Aku bersyukur sebab kamu adalah aku. 
Atas segala ketidaksempurnaan yang melekat pada diri ini. 
Atas segala kerumitan cara berpikir yang kadang sukar dipahami orang lain. 
Atas segala impian-impian yang sedang diperjuangkan.
Aku merasa begitu beruntung menjadi kamu, diriku. 





“Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendo’akan keselamatanmu.” – Sapardi Djoko Damono

Sudah lebih dari seribu malam kita terpisah. Menjalani hari-hari penuh lelah tanpa pernah saling berpapasan langkah. Bagaimana kabarmu hari ini? aku kira kamu baik-baik saja.

Kita berperan normal, biasa. Seolah tak pernah ada jumpa. Kita hanya dua manusia yang kebetulan pernah ada dalam cerita yang sama, namun pada akhirnya memilih untuk saling melupa.

Terimakasih, ya.

Terimakasih untuk segala pengalaman berharga. Aku masih ingat bahwa kamu selalu berusaha membuatku bahagia, meski sering aku membuatmu terluka. Tingkahku selalu tak biasa, mungkin apabila aku berada di posisimu, saat itu juga aku akan memilih untuk berhenti. Berhenti membuat orang yang melukai bahagia.

Namun, kamu tidak.

Dengan suka rela kamu terus mempertahankan agar cerita kita berlanjut tanpa kendala. Lagi-lagi kamu memaafkan segala kesalahan yang aku perbuat, aku heran mengapa ada manusia sebaik kamu. Lebih heran lagi ketika manusia sepertimu dipertemukan dengan aku. Harusnya yang lebih pantas denganmu adalah dia yang sama baiknya dengan kamu. Ah, sudahlah. Tak ada habisnya membicarakan kebaikanmu itu.

Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku masih di sini, mengamatimu dari jauh. Memperhatiakan setiap aktivitasmu yang dapat kulihat.  Masih sama di tempat yang dulu, tak pernah beranjak sedikit pun. Tapi jangan khawatir, aku sudah merencanakan untuk berlari, mencari tempatku sendiri. Takkan mengganggumu lagi.

Aku bahagia, melihatmu bahagia.
Aku bersedih, melihatmu terluka.
Meski  aku tak dapat lagi secara langsung menunjukkannya, aku selalu berdo’a  agar kamu selalu berada dalam lindungan-Nya dan tentunya berbahagia. Di mana pun, bersama siapa pun, semoga kebaikan selalu menyertai setiap langkahmu itu.

Jika memang kita bersama akhirnya, aku bahagia.
Jika tidak, tak apa.

Namun, ada satu harapku;
Bila takkan lagi ada cerita
Kuharap ada satu figura
Dan di dalamnya kita bersama
Sebagai kenang yang paling nyata.


Semoga dipertemukan dengan dia yang dapat membuatmu bahagia. 






Apa kabar hari ini?

Mungkin dia bosan setiap kali membaca pertanyaanmu itu.

Tulisan ini aku ciptakan untukmu.

Ya, kamu seorang manusia keras kepala yang masih saja sibuk memikirkannya, meskipun di sisi lain kamu tahu bahwa kamu sudah bukan lagi bagian dari dunianya.

Sedih sekali bukan?

Tentu.

Setiap orang berhak untuk berubah, berhak untuk memilih jalannya sendiri, begitu pula dia. Tiada yang bisa melarangnya, apalagi kamu. Ia tak bisa kamu suruh menjadi seperti apa yang kamu ingin. Tentangmu saja baginya sudah kadaluwarsa.

Lucu sekali ketika melihatmu yang seolah tak ingin melihatnya berubah dan memilih jalannya sendiri. Harus kamu ketahui bahwa kamu tak lagi berarti. Kamu hanya kisah yang akan menjadi bagian dari memori, tak ada hak untuk ikut campur lagi. Kamu dan dia sudah tidak ada apa-apa hari ini. kamu jangan terlalu bersedih melihatnya pergi, sebab kamu pun banyak ingkar janji.

Memang lebih baik begitu.

Akhiri.

Dia memiih mengakhiri.

Dia sudah enggan untuk melihatmu berlalu-lalang, meski hanya lewat dunia maya, tempat di mana kamu berbagi. Dia memilih untuk benar-benar lepas, tak ingin lagi menjumpai.

Kamu harusnya mengerti.

Mengerti bahwa hati bisa berubah kapan saja tanpa kau kehendaki. Mungkin inginmu dia tetap menanti, tapi dia juga punya hati. Dia punya mimpi, oleh sebab itu dia pergi. Dia sadar menanti takkan membuatmu kembali. Entah dia memilih sendiri atau bersama orang lain yang menemani. Kamu harusnya tahu diri. Kalian sudah sepantasnya tak bersinggungan lagi. Dan jika dia sudah menemukan pengganti, semoga kamu lekas menghapus keinginan untuk kembali.

Kamu dan dia sama-sama punya mimpi. Dan mungkin tentang kalian harus diakhiri, supaya langkah kalian tak terbebani oleh perkara luka-melukai yang dulu pernah membuat kalian hampir membenci.

Semoga tiada benci setelah ini.

Semoga kalian bahagia dengan jalan yang kalian pilih sendiri.

Dan untuk kamu, katakan ini padanya, “Pergilah kemana pun kamu mau. Aku akan berusaha untuk tidak lagi menoleh, melihat langkahmu menjauh. Biar kamu tidak ragu dengan jalan yang akan kau tempuh. Biar tentang kita hanya menjadi suatu hal yang ‘pernah’ hampir penuh.”

Dan ini dariku, untukmu; duniamu takkan runtuh hanya karena seseorang memilih luruh. Meski memang kamu tak lagi utuh.

Berlarilah jangan berhenti sampai segala inginmu terpenuhi. Raih mimpi-mimpi.

Kamu harus membuat dirimu bahagia. Di sana, dia juga sedang berusaha membuat dirinya bahagia, meski cara kalian berbahagia sama-sama terkesan hampa.
Namun, ingatlah...

Bahagiamu utama.



Kotak Kenangan

People come and go.

Datang dan pergi. Begitulah.

Beberapa tahun lalu, seseorang pergi dari hidupku. Namun, sayangnya ia tak membawa serta kenangan-kenangan yang bergentayangan di setiap malamku. Akhirnya, beberapa waktu setelah kepergiannya, aku memasukan semua kenangan pada sebuah kotak kayu tua.

Semoga kamu tidak lagi mengganggu malam-malamku. Kataku.

Kuletakan kotak tersebut di sudut kamar.

Aku memang tak menyukai kenangan-kenangan itu mengganggu lelapnya tidurku, namun aku juga enggan bila harus memisahkannya dari kamar tidurku. Bagaimanapun, kenangan-kenangan itu pernah membuatku tersenyum hingga tanpa sadar beralih ke dunia mimpi. Mimpi-mimpi yang indah pada masanya.

Beberapa hari setelahnya, aku memang senang sekali menatap kotak itu. Bahkan, ingin kulepaskan lagi segala kenangan itu. Aku senang dihantui hal-hal yang indah. Tapi, membiarkannya lepas mengelilingiku lagi, rasanya tak mungkin. Hanya kesedihan yang akan kudapatkan, sebab tak dapat mengulang semuanya lagi.

Saban hari aku membersihkan kotak tua itu.

Segala hal indah ada di dalamnya. Kataku.

Hingga suatu hari, aku mulai merasa bahwa membersihkan kotak itu hanya akan membuatku menjadi manusia yang tak bisa bergerak maju. Selalu dihantui bayang-bayang masa lalu. Meski ia telah terpendam membisu. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak lagi peduli.

Mungkin kotak itu akan dihinggapi rayap, dipenuhi jaring laba-laba. Aku tak peduli. Seluruh isinya sudah tak lagi kuingini. Walaupun berat rasanya harus berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa benda-benda di dalamnya sudah tidak berarti.

Kemudian perlahan aku mulai melupa. Benar-benar lupa.

Keberadaan kotak itu seolah lenyap, tak lagi nyata.

Hari-hari berjalan normal seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Rasanya bahagia.

Dikelilingi oleh orang-orang baru, menulis kenangan-kenangan baru, membaca setiap alur kehidupan yang baru. Semuanya terasa lebih menyenangkan.

Sayangnya, semua tidak bertahan lama.

Bertahun-tahun setelah kotak itu tak lagi kusapa, tiba-tiba saja ada bayangan yang berkelebat di depan mataku. Mengganggu tidurku. Bahkan, sampai berani masuk ke dalam cerita indah di mimpiku. Seberani itu. Pedahal ia sudah lama terlupa.

Di mimpiku, kotak tua yang usang itu terlihat begitu menawan. Bunga-bunga tumbuh indah, mencuat dari dalamnya. Tak ada kesan lusuh, kotak itu terlihat begitu indah. Ingin lagi memeluk semua kenangan indah di dalamnya.

Keesokan harinya saat mataku terbuka dari lelapnya tidur, akhirnya aku memberanikan diri menghampiri kotak tua itu. Dapat kucium wangi kenangan yang manis dari benda yang tertutup debu.

Kemudian ku keluarkan semua benda di dalamnya. Memeluknya satu persatu. Tak ada lagi yang lebih membahagiakan selain berdamai dengan segala kenangan itu. Semuanya terasa begitu ringan, pada akhirnya.
Aku tersenyum.

Saatnya kembali menata kenangan. Sebab ia tak layak di lupakan. Mungkin lebih baik bila terus diabadikan. Karena semakin berusaha untuk dilupakan, semakin ia mengeras ingin terus dipikirkan.

Memang manusia datang dan pergi, namun kenangan abadi. Selalu.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

TEMUKAN SAYA

TERPOPULER

  • Film Pendek di Disney+ Hotstar yang Wajib Kamu Tonton!
  • Belanja Buku Online di Shopee Mizan Jakarta (mbcjakarta), Untung Besar!
  • Kotak Kenangan
  • Tentang Peter dan Wendy
  • Lazuardi: Mendekat
  • Lazuardi: Selesai
  • Untuk yang Tetap Memilih Sendiri
  • Raguku
  • 2521 dan Kesan Setelahnya
  • Cara Mengatasi Rasa Jenuh Saat Membaca

KATEGORI

  • #30DaysWritingChallange 10
  • Cerita 24
  • Cerita Bersambung 2
  • DAY 1 : Describe your personality 1
  • Lazuardi 2
  • Puisi 5
  • Serba-serbi Perbukuan 15
  • Tentang Film 5
  • Tentang Kehidupan 42
  • Ulasan Buku 18
Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
deefesef
Hi, Devi di sini! Menuliskan apa yang tidak akan pernah dia baca, juga menulis tentang berbagai rasa dan tanya, serta banyak hal lainnya.
Lihat profil lengkapku

ARSIP

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  Oktober (1)
      • Sang Alkemis—Mengembalikan Mimpi yang Sempat Hilang
  • ►  2023 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2020 (85)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (27)
    • ►  Agustus (16)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (9)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)
  • Beranda
  • Rangkaian Kata
  • Ulasan Buku

© - Devi Sofiyanti | Designed by OddThemes