Between Words | Devs

Sastra Indonesia: Semester Dua dan Kesannya



Sastra Indonesia, jadi apa?

Mungkin pertanyaan di atas sudah tidak asing lagi di telinga para mahasiswa sastra Indonesia. Terkadang, pertanyaan tersebut mampu membuat diriku merasa cukup kesal karena yang menanyakan seolah tidak percaya bahwa lulusan sastra Indonesia dapat memiliki karir yang cemerlang. Namun, tak jarang pula yang memberikan respon positif ketika mengetahui bahwa diri ini sedang menempuh pendidikan di prodi tersebut.

Sesungguhnya, masih terlalu dini untuk menuliskan semua ini. Masih banyak pengalaman yang belum terlampaui, hanya beberapa kesan dan curhatan pribadi yang mampu diungkapkan di sini.

Kesan awal perkuliahan cukup dibuat terkejut, prodi ini memberikan kejutan yang luar biasa. Menjadi mahasiswi prodi ini ternyata bukan hanya sekedar bermodal pintar merangkai kata, cakap membuat alur cerita, dan pandai menikmati senja—seperti yang sering dikatakan orang-orang di luar sana. Sastra Indonesia mencakup jauh lebih luas dari hanya itu. Di sana kita akan membahas sejarah sastra, baik di dunia maupun di Indonesia, sampai mempelajari tata bahasa dari bahasa-bahasa lain yang memiliki hubungan dengan bahasa dan sastra Indonesia.

Pernahkah terlintas di kepalamu akan mempelajari bahasa Arab, bahasa Jawa Kuna, dan bahasa Sanskerta? Di sastra Indonesia kamu akan diajak untuk mempelajari bahasa-bahasa tersebut. Memang, hanya dasar-dasarnya saja. Tetapi, cukup membuat kepala terasa seperti sedang dikelilingi burung yang terbang melingkarinya. Namun, jangan khawatir, justru inilah yang membuatnya menyenangkan dan penuh tantangan. Mata kuliah lainnya pun tak kalah menyenangkan.

Sampai saat ini, sejujurnya aku masih memerlukan banyak adaptasi dengan prodi ini. Terlebih ketika menyadari teman-teman seperjuangan gemar membaca puisi, ada yang ingin menjadi jurnalis, bersemangat mengikuti segala macam lomba menulis, sedangkan aku... Inginku hanya mengabadikan momen lewat kamera dan menulis untuk berbagi kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai macam perasaan. Apakah pilihanku tepat? Apakah aku tidak tersesat? Entahlah.

Namun, aku merasa berada di tempat yang seharusnya. Meskipun seringkali materi pelajaran terasa agak sulit diterima. Tapi, di sini aku merasa punya nyawa. Punya sesuatu yang ternyata aku suka. Nyaman menjadi bagian darinya.


Sesederhana itu.

Soal karir, sastra Indonesia memiliki peluang yang sangat banyak di era modern seperti ini. bisa jadi penulis, jurnalis, MC, coppywriter, editor/penyunting, penerjemah, dll. Banyak sekali.

Aku tak tahu akan menjadi apa nantinya, tapi aku hanya ingin untuk selalu berbagi setiap perasaan yang terkadang sulit diutarakan.

Untuk saat ini kucukupkan sekian.

Inilah sekilas tentang apa yang aku rasakan selama berada di prodi Sastra Indonesia.

Masih terlalu awal, aku masih perlu lebih dalam mengenal.

Kepada yang menuliskan nama di atas pasir

Kau tahu bahwa ombak akan menghapusnya
Kau sadar bahwa pasir tak mampu menyimpan jejaknya
Kau yakin tulisan itu takkan bertahan selamanya
Tetap saja dengan senyum kau ukir namanya
Tetap saja dengan semangat kau gores huruf demi huruf
Tetap saja dengan cinta kau saksikan hasilnya
Meski kini hanya tinggal memori
Dia tak lagi kau miliki
Tak lagi berbagi perihal hari yang dilalui
Seolah tak pernah saling melengkapi

Foto debur ombak


Selamat hari puisi!

Bertepatan dengan hari puisi kutuliskan kata-kata ini dengan sisa memori.

Ada perasaan yang tak mampu diungkapkan. Barangkali cukup disimpan dalam kotak bernama kenangan. Ada bahagia dan sedih yang datang bersama.

Pernahkah kamu mengalami hal serupa?
Ketika menulis namanya di atas hamparan pasir dengan penuh cinta, lalu tanpa permisi ombak menghapus segalanya?

Saat itu mungkin kamu hanya berpikir bahwa ombak memang mampu menghapus namanya hingga tak berjejak, tapi tidak denganmu. Sayangnya, waktu menunjukkan bahwa kamu sama seperti debur ombak itu. Perlahan kamu juga menghapus namanya dari hatimu—dari hidupmu.

Kenyataan selalu penuh kejutan. Itulah hal yang akhirnya aku sadari.

Seseorang pernah mencoba mengabadikan nama orang yang ia cintai di atas pasir, belum lama dinikmati, ombak menghilangkan jejaknya. Dia sedih. Sesuatu yang ia ukir dengan semangat dan kasih, kini tak lagi bersisa. Dengan yakin dia berpikir bahwa dia tak akan seperti ombak itu, tapi dia salah. Mereka tak ada bedanya. Dia dan ombak.

Sama-sama mudah mengahapus jejak indah.

Setelah itu apa? Hidup dia dan seseorang yang ia cintai kini bersekat. Bahkan masing-masing telah saling melupa. Pedahal dulu, di atas pasir mereka saling mengukir nama dan berjanji untuk terus bersama. Lalu ombak datang menghapusnya. Tak lama berselang, rasa mereka benar-benar sirna seperti goresan huruf-huruf yang hilang begitu saja.

Tapi diantara sirna itu, ada satu hal yang abadi. Potret indah huruf-huruf itu yang sempat tertangkap kamera. Hanya itu yang tersisa, hanya itu yang mereka punya.

Namun, perihal cerita, mereka tak ingin melanjutkannya.

Nama di atas pasir itu hanya bagian dari kenangan, yang lambat-laun dilupakan ingatan.




Lelaki yang tak pernah kukenal, tak pernah bertegur sapa. Namun, bisa kurasakan keramahannya. Sesederhana itu aku menilai manusia. Menaruh hal-hal baik sebagai kesan pertama.



Sampai detik ini aku tidak tahu siapa namamu. Namun, bagiku itu cukup.

Aku tak pernah menginginkan informasi lebih. Toh, kita pun tak pernah terlibat dalam suatu keadaan apapun. Kita hanya sama-sama berada di ruang yang sama dengan pikiran yang jauh dari raga.

Lalu, untuk apa aku menulis?

Aku menulis karena bagiku kamu menarik. Kamu terlihat seperti orang baik.

Tanpa kusadari, ternyata hadirmu mengundang rasa penasaran dalam diri.

Berkali-kali tak sengaja berjumpa tanpa pernah saling sapa, bahkan aku yakin keberadaanku pun belum tentu kamu menyadarinya. Tak apa. Bagiku, mengetahui kamu hidup di dunia saja sudah cukup. Aku tak peduli siapa namamu, dari mana asalmu, dan mengapa kamu selalu menyendiri di situ. Dan tidak ada yang ingin kuketahui lebih banyak. Aku hanya tertarik padamu karena satu hal, tanpa alasan lain yang mampu aku jabarkan.

Satu hal itu adalah tentang mengapa aku selalu menyadari bahwa kamu ada, duduk menyendiri di samping jendela, selalu begitu setiap kali retinaku menangkap sosokmu di ruang yang bagiku ini cukup leluasa. Sederhana tapi mampu membuatku merasa ada sesuatu yang istimewa. Tidak tahu apa.

Terkadang aku tak mengerti pada diriku sendiri. Aku tak mengerti mengapa diriku seolah tak pernah lelah mengamati. Diam-diam aku mengamatimu. Melihatmu tersenyum saat menatap ponselmu. Aku pun tidak tahu apa yang membuatmu perlahan melengkungkan bibirmu membentuk sebuah rona bahagia dengan begitu sederhana. Tapi jujur, aku suka melihatnya.

Sedikit gila memang.

Tapi, percayalah bahwa perempuan ini hanya sekedar ingin mengamatimu dan menceritakan pada dunia bahwa ada orang unik sepertimu. 

Mengamati seseorang yang bahkan tidak kamu kenal, tapi itu memberikan rasa bahagia yang sulit kujelaskan.

Jangan khawatir, aku tak berniat melakukan hal aneh yang akan mengganggu hidupnya, aku hanya suka cara ia menjalani harinya. Secangkir teh sepertinya menjadi minuman kesukaannya. Lihat, betapa aku menaruh banyak perhatian padanya tanpa sedikit pun berniat untuk mengenalnya.

Konyol.

Tapi, beberapa dari kita memang terkadang perlu melakukan hal-hal tak biasa, agar hidup terasa lebih berwarna. Salah satu yang paling membuatku bahagia adalah dengan memperhatikan gerak-gerik seseorang yang ada di depan mata. Termasuk mengamatinya.

Aku tidak berharap akan ada kesempatan bagiku untuk mengenalnya, mengetahui siapa namanya, dari mana asalnya, dan mengapa ia tidak pernah lepas dari teh dan jendela, juga senyum di bibirnya setiap kali ia menatap ponselnya. Namun, sepertinya dia orang baik, sederhana dan bahagia. 

Terima kasih, telah terlahir di bumi. 
Kamu mungkin tidak membayangkan akan ada seseorang yang menuliskan catatan gila ini karena melihatmu. 

Semoga harimu selalu menyenangkan!
Terima kasih sekali lagi. 

Berbicara tentang buku.

Sekilas tentang buku Le Petit Prince 


Judul : Le Petit Prince (Pangeran Cilik)
Penulis : Antoine de Saint-Exupery
Alih bahasa : Henri Chambert-Loir
Jumlah halaman : 120 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama


Le Petit Prince (Pangeran Cilik)

            Di sampul buku ini terdapat gambar seorang anak kecil dengan rambut berwarna kuning keemasan yang sedang berdiri di sebuah benda yang menyerupai planet, lengkap dengan taburan bintang-bintang. Jika penasaran fotonya bisa dilihat di bawah ini, ya.



            Novel ini merupakan salah satu novel yang paling banyak diterjemahkan. Tidak perlu waktu yang lama untuk membaca novel ini sampai halaman terakhir. Novel ini sekilas terlihat seperti buku cerita anak karena setiap narasinya dilengkapi dengan ilustrasi berwarna yang begitu cantik, tetapi buku ini ternyata tidak ditulis untuk anak-anak. Namun, bukan berarti anak-anak dilarang membaca buku ini, hanya saja buku ini lebih cocok dibaca bagi mereka yang pernah menjadi anak-anak. Selain itu, buku ini juga akan membuat kita berpikir lewat setiap untaian kata yang tertulis dan mencoba untuk meresapi maknanya.

            Kita bahas isi buku tersebut, yuk!

            Berikut kisah perjalanan yang dilakukan Pangeran Cilik selama mengelilingi planet-planet, hingga akhirnya sampai di bumi, lalu menceritakan kisahnya kepada seorang pilot yang sedang memperbaiki pesawatnya. Lelaki itulah yang kemudian berperan sebagai narator untuk menyampaikan rangkaian kisah Pangeran Cilik yang tertulis di novel ini.

            Awalnya Pangeran Cilik itu tiba-tiba datang menghampiri sang pilot dan meminta agar pilot tersebut menggambarkan domba untuknya. Pilot itu awalnya menolak. Sebab, ia hanya bisa menggambarkan ular sanca terbuka dan tertutup. Lagipula, sudah lama ia tidak menggambar. Sejak ia masih kecil dan menyadari bahwa orang dewasa lebih suka hal-hal seperti ilmu pengetahuan alam dan sejarah, serta tak ada satu pun orang dewasa yang mengerti akan gambar ular sanca terbuka dan tertutup. Setiap kali ia menunjukkan gambar tersebut mereka akan mengatakan bahwa itu adalah sebuah topi. Mimpinya untuk menjadi seorang pelukis hancur saat itu juga. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan karir melukisnya dan lebih memilih untuk menjadi pilot. Tapi anak itu terus mendesaknya untuk menggambarkan domba. Akhirnya, ia kembali menggambar. Gambarnya kali ini bukan ular sanca yang tertutup dan terbuka lagi, melainkan seekor domba.

Ia tidak tahu dari mana anak itu berasal. Pesawatnya jatuh jauh sekali dari pusat peradaban manusia, sehingga ia merasa aneh ketika ada seorang anak yang menghampirinya. Dengan rasa penasaran ia mulai bertanya dari mana anak itu berasal, meskipun butuh beberapa kali bertanya sebelum akhirnya anak tersebut bercerita.

Anak itu atau sebut saja Pangeran Cilik berasal dari sebuah planet kecil di mana terdapat gunung merapi yang masih aktif dan tumbuhan Baobab. Satu-satunya teman yang sangat berharga bagi dirinya di planet tersebut adalah bunga mawar yang tumbuh di sana.

Pada perjalanan pertamanya Pangeran Cilik singgah di sebuah planet yang dihuni oleh seorang raja. Raja tersebut merasa sangat berkuasa, segala perintahnya harus dituruti. Planet kedua, ditinggali oleh seorang yang sombong. Dia lebih suka pujian. Planet ketiga, sang pemabuk. Di mejanya berderet botol yang sudah kosong maupun masih berisi. Planet keempat, didiami seorang pengusaha. Selama bertahun-tahun pekerjaannya hanya menghitung bintang. Planet kelima, dihuni oleh seorang Penyulut Lentera. Lentara akan dinyalakan ketika menjelang malam dan dimatikan ketika matahari mulai bersinar. Namun, tahun demi tahun planetnya berputar semakin cepat. Karena aturan tidak berubah ia kewalahan, sehingga tidak ada waktu untuk dirinya beristirahat. Di planet keenam, tinggallah seorang ahli bumi. Namun dia tidak tahu apakah di planetnya ada samudra, gunung, laut atau yang lainnya karena dia tidak memiliki seorang pun penjelajah. Planet terakhir yang ia kunjungi adalah bumi. Sebelum bertemu dengan pilot tersebut, pangeran cilik bertemu dengan seekor ular di gurun pasir dan setangkai bunga. Saat itu Pangeran Cilik belum bertemu dengan manusia seorang pun. Dalam perjalanannya menuju tempat manusia berada Pangeran Cilik melihat kebun yang penuh dengan bunga mawar, membuatnya mengingat sang mawar yang ditinggalkannya sendirian di planetnya. Tak lama dia bertemu dengan seekor rubah. Pangeran Cilik mengajak sang rubah bermain tapi rubah itu menolaknya karena rubah itu belum jinak. Setelah berbincang cukup lama, rubah meminta dijinakkan sebelum mereka berpisah karena Pangeran Cilik harus melanjutkan perjalanannya kembali.

Pertemuan Pangeran Cilik dengan rubah inilah yang menurutku paling berkesan. beberapa percakapan rubah dengan Pangeran Cilik akan ditulis di bawah ini.

"Inilah rahasiaku. Sangat sederhana: hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata.'' --Halaman. 88

“Manusia telah melupakan kenyataan ini,” kata rubah. “Tetapi kamu tidak boleh melupakannya. Kamu menjadi bertanggung jawab untuk selama-lamanya atas siapa yang telah kamu jinakkan. Kamu bertanggung jawab atas mawarmu...”
“Aku bertanggung jawab atas mawarku,” ulang Pangeran Cilik agar tidak lupa. –Halaman. 88
           
            Setelah selesai membaca novel ini banyak sekali hal yang dapat kita dapatkan. Misalnya tentang betapa luar biasanya imajinasi seorang anak, sayangnya terkadang orang dewasa tak menyadari hal tersebut. Novel ini juga mengajarkan tentang kesetiaan, kesabaran, ketulusan,  tentang bagaimana seharusnya kita berperilaku terhadap sesama manusia, juga terhadap alam. Buku ini benar-benar direkomendasikan untuk mereka yang ingin belajar tentang arti sebuah kehidupan. 

Berbicara tentang buku 
Sesuatu yang selalu memberikan banyak hal baru.

Sekilas tentang kumpulan cerpen metropop Autumn Once More
Judul : Autumn Once More
Penulis : AliaZalea, Ilana Tan, Ika Natassa, dkk.
Jumlah halaman : 232 halaman
Tahun terbit : Cetakan ketiga, Mei 2013
ISBN : 978-979-22-9471-2
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

            Tampilannya lucu dengan cover warna merah berpadu kuning dan putih. Terdapat gambar pohon dengan daun berbentuk love. Lucu banget! Bisa dilihat tampilannya di foto yang ada di bawah ini


Di dalamnya terdapat tiga belas cerpen yang berisi tentang cinta. Bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang kepedihan. Berikut ini daftar judul dan pengarangnya.
1.      Be Careful What You Wish For (AliaZalea)
2.      Thirty Something ( Anastasia Aemilia)
3.      Stuck with You (Christina Juzwar)
4.      Jack Daniel’s vs Orange Juice (Harriska Adiati)
5.      Tak Ada yang Mencintaimu Seperti Aku (Hetih Rusli)
6.      Critical Eleven (Ika Natassa)
7.      Autumn Once More (Ilana Tan)
8.      Her Footprint on His Heart (Lea Agustina Citra)
9.      Love is a Verb (Meilia Kusumadewi)
10.  Perkara Bulu Mata (Nina Addison)
11.  The Unexpected Surprise (Nina Andiana)
12.  Senja yang Sempurna (Rosi L. Simamora)
13.  Cinta 2 x 24 Jam (Shandy Tan)

Semua cerita memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri dengan berbagai konflik kisah cintanya. Para penulisnya memiliki ciri khas masing-masing dalam menuliskan kisah-kisah yang tergabung dalam cerpen tersebut. Ada yang menggunakan bahasa yang sering kita gunakan sehari-hari, ada pula yang memakai kata-kata puitis yang perlu dipahami maknanya terlebih dahulu. Namun yang paling membuat jatuh hati adalah cerpen yang berjudul Tak Ada yang Mencintaimu Seperti Aku, Critical Eleven, dan Senja yang Sempurna. Kisah-kisah yang mampu menyadarkan tentang arti cinta.

Nah, di sini akan kutulis salah satu kisah dari cerpen-cerpen tersebut.

Tak Ada yang mencintaimu Seperti Aku

Cerpen ini mengisahkan tentang seorang lelaki yang begitu mencintai kekasihnya. Namun sayangnya, cintanya yang terlalu berlebihan itu justru membuat kekasihnya merasa sesak dan tidak tahan untuk melanjutkan hubungannya. Ironisnya, perempuan itu pun mengatakan bahwa sebenarnya ia tak pernah mencintainya dan semua janji-janji hanyalah kebohongan belaka. Hal  itu pula yang mengingatkannya pada luka lama dan kembali mengingat perkataan ayahnya sebelum ayahnya dibawa oleh polisi bahwa perempuan memang tak bisa dipercaya, mereka semua pembohong. Meski demikian, ia selalu mengikuti kemana pun perempun itu pergi dengan hati hancur dan perasaan terkoyak. Menurutnya, perpisahan dengan perempuan itu bukanlah takdir. Takdir adalah mereka harus bersama selamanya dan ia bersedia untuk menunggu perempuan itu sadar kembali bahwa hanya dia yang bisa mencintainya sebesar cintanya pada perempuan itu. Namun, rambut perempuan itu yang mirip dengan rambut ibunya membuatnya takut. Takut ketika menyadari bahwa ibunya juga benar ketika berkata pada ayahnya pada malam penuh darah itu, Tak ada seorang pun yang mencintaimu. Tak ada. Sampai kapan pun. Dan dia hanya ingin kegilaan ini berakhir.

Inilah sekilas tentang Autumn Once More. Kisah-kisah di dalamnya sangat menarik karena menggambarkan cinta dari berbagai sudut pandang. Kebahagiaan, kepedihan, kegalauan, dan kerinduan tertulis di buku ini.

           






yang datang dan yang hilang

Sebelum sampai di hari ini, tentu saja kita pernah melewati hari-hari yang membahagiakan, menyedihkan, menjengkelkan, dan hal-hal lain yang beberapa sudah mulai memudar dari ingatan.

Setiap perjalanan, tentunya akan selalu ada kawan. Sosok yang mendengarkan dan selalu memberi dukungan, meski kita kemudian berbeda tujuan. Dipertemukan dan dipisahkan oleh jalan.

Masih ingat siapa saja yang pernah menemanimu berjuang menghadapi kerasnya kehidupan?

Barangkali kamu lupa. Sebab, yang pergi hilang begitu saja, lalu yang datang masuk tanpa sapa. Seolah tak ada yang berbeda. Seolah tiada yang hilang dan baru datang. Kamu tentu saja tak menyadarinya. Kamu sibuk dengan urusanmu sendiri.

Untuk kali ini aku tidak ingin membahas perihal yang baru saja tiba, melainkan yang perlahan mulai kamu lupa.

Di sela waktu sibukmu itu, aku ingin mengajakmu mengenang yang lalu. Yang tanpa sadar sudah berjalan jauh dari hidupmu. Dia adalah temanmu. Teman masa kecilmu. Teman yang tak segan meneriakkan namamu di depan pintu, saat kamu pura-pura terlelap karena tak ingin mengikuti permainan yang tak menyenangkan bagimu. Teman yang selalu mengajakmu bermain sampai lupa waktu. Teman yang selalu mengganggu saat kamu sedang melakukan sesuatu. Teman yang bahagianya sesederhana mendengar tawamu.

Teman yang kini mungkin juga telah melupakanmu. Dia tak pernah berniat untuk itu, tapi waktu tak pernah mau tahu. Waktu tak pernah mengizinkan seseorang terjebak dalam lingkar masa lalu, oleh karena itu, ia selalu mengajak untuk terus berputar mencoba hal-hal baru. Hal-hal baru itu termasuk segala tentang kisah masa kecilmu yang digantikan kisah baru.

Apakah kamu pernah merindukannya? Merindukan saat kalian berkumpul bersama penuh canda tawa, bahkan terkadang air mata. Semua itu sekarang telah jauh. Jauh tertinggal di belakang sana. Kita semakin dewasa, semakin melupa. Namun, tanpa sadar hal itulah yang menjadikan kita manusia.

Mengajarkan ketulusan tanpa berharap imbalan.

Jika sudah begini, bagaimana?

Jangankan kembali menghabiskan waktu bersama, bertegur sapa pun langka.
Berpapasan tanpa sengaja jadi salah satu momen istimewa, sebab biasanya hanya saling melihat kehidupan satu sama lain lewat layar saja.

Semua berubah. Semua berpindah.
Setiap mengingat mereka, seperti ada luka yang tiba-tiba menganga,
pedahal, dulu itulah yang paling membuat bahagia.

Apa kabar kalian semua?
Indah ya, masa-masa saat kita bersama. Saat dunia masih belum banyak drama.

Sebagai penutup akan kutuliskan lirik lagu Sahabat Kecilku yang dinyanyikan oleh Gita Gutawa. Lagu yang akan selalu mengingatkan akan kebaikan para teman yang pernah menemani di fase awal kehidupan.


Kau jauh melangkah
Melewati batas waktu
Menjauh dariku
Akankah kita berjumpa kembali 
Sahabat Kecilku
Masihkah kau ingat aku
Saat kau lantunkan
Segala cita dan tujuan mulia
Tak ada satupun masa
Seindah saat kita bersama
Bermain-main hingga lupa waktu
Mungkinkah kita kan mengulangnya... 
Tiada... Tiada lagi tawamu
Yang slalu menemani segala
Sedihku...
Tiada... Tiada lagi candamu
Yang slalu menghibur disaat
Ku lara... 
Bila malam tiba
Ku slalu mohonkan doa
Menjaga jiwamu
Hingga suatu masa bertemu lagi 
Tiada... Tiada lagi tawamu
Yang slalu menemani segala
Sedihku...
Tiada... Tiada lagi candamu
Yang slalu menghibur disaat
Ku lara... 
Masihkah kau ingat aku...

Alasan.

Tentang sebuah titik yang tak juga mengakhiri kalimat.

Matamu, sesuatu yang mustahil kutatap lagi.
Hadirmu hanya nyata di ruang imaji.
Kata temu bila disandingkan dengan kamu, ialah yang akan selalu kuhindari.

Sepenggal kata di atas barangkali sedikit mewakili kegelisahan dalam diriku, meski hanya sedikit. Sedikit, kutegaskan sekali lagi. Rasa gundah yang tak tahu kapan akan berhenti. Entah sudah berapa kali kalender di kamarku berganti. Tetap saja ada yang tak mampu kutinggal pergi. Selalu mengikuti.

Jujur, jika ada tombol untuk mengakhiri, tanpa ragu akan segera kuhampiri. Aku ingin semua ini segera usai cukup sampai di sini. Tak ingin lebih lama lagi terbebani dengan hal-hal yang mungkin sudah tak berarti. Walaupun jauh di dalam benakku, ingin rasanya membuat hal itu menjadi sesuatu yang abadi. Namun, ternyata hanya pilu yang rajin menemani. Sudahlah, tak harus ada yang tersisa di ruang yang tak mungkin lagi ditempati.

Itulah mengapa banyak jumpa kulewatkan. Kegundahan yang jadi jawaban dari pertanyaan yang tak pernah kamu lontarkan, tapi diam-diam aku harapkan. Rasa resah yang tak pernah bosan mengajakku untuk hanyut dalam aliran kenangan, lalu menenggelamkan dalam ribuan hal yang seharusnya tak pernah lagi singgah di pikiran.

Kamu baragkali tidak pernah berpikir sejauh ini.
Jelas, kamu tidak lagi peduli.
Bagaimana pun, kita hanya tumpukan memori.
Tapi aku terlalu terobsesi.
Hingga seringkali tak kuasa dipermainkan emosi.
Terperangkap, lalu merasa asing sendiri.

Dari sekian kata yang kutulis di atas, apakah kamu bisa mengerti bahwa alasanku adalah tentang ketidakmampuanku dalam menghapus kamu. Hal yang seharusnya aku lakukan jauh-jauh hari sebelum hari ini. Kamu harus tahu bahwa hal itu menjadi kegelisahan yang sangat membuatku merasa tidak aman. Tapi, sayangnya kamu tak pernah bertanya perihal itu, sehingga jawabanku pun mungkin tak akan pernah sampai kepadamu. Yang tak meminta, terkadang akan merasa biasa saja jika diberi. Sebab, tak ada yang ia inginkan. Lalu, apa yang harus diapresiasi?

Apakah kamu juga sama?

Sungguh, aku tak keberatan jika kamu berkata bahwa tak perlu alasan, karena apa yang telah terlewatkan hanya tinggal dalam ingatan. Tak seharusnya diungkit pada rasa tenang yang kini sudah didapatkan. Terlalu menyakitkan. Lagi pula, kita sudah menemukan kesenangan masing-masing.

Memang.

Namun, entah mengapa aku merasa ingin menuliskannya. Sebab, ia keterlaluan. Mengganggu tidurku semalaman, datang disaat tengah nyaman berbincang dengan teman, bahkan hadirnya akan lebih sering jika sedang tak ada yang dikerjakan. Aku tak mampu lagi menahan. Hari ini sengaja kulepaskan.

Katamu ini berlebihan? Aku tak menyalahkan. Memang kenyataan.

Kamu diam saja. Tidak perlu bicara. Tak perlu bersuara. Kukira kamu pun tak berminat melakukannya. Sudah, maafkan aku yang mudah terbawa suasana.

Hanya ini yang kusampaikan.

Dari sekian banyak kegelisahan yang memaksa untuk dicairkan lewat tulisan.

Sebuah tulisan untuk menutup lembaran kisah di 2019.




Dunia sibuk.

Aku duduk memperhatikan orang berlalu lalang. Mereka sibuk dengan perannya masing-masing. Beberapa ada yang melintas sambil tersedu dengan langkah berat. Beberapa tertawa lepas karena lelucon yang lucunya tak seberapa. Beberapa melintas dengan senyum merekah tanpa sedikit pun mengeluarkan suara, seolah ada kebahagiaan yang sulit diucapkan kata-kata. Di sudut lain, ada seseorang yang menangis histeris karena seluruh harapannya sirna. Di depanku seseorang tak henti-hentinya mengucap syukur dan meneteskan air mata, seperti bahagianya nyaris sempurna. Ada juga yang melintas dengan wajah cemas, meski banyak pula yang melintas sambil menyeret, memikul, mendorong semua beban mereka dengan senyum menghias wajahnya. Ada yang pada akhirnya pasrah, ada yang bahkan enggan untuk menyerah.

Mereka berjalan seolah tak peduli dengan satu sama lain, beberapa sejenak memperhatikan lalu kembali sibuk dengan seribu urusan, sedikit yang mengamati dan duduk di sisi untuk berbagi senyuman, tawa, dan tangis yang menyelimuti.

Ah, entahlah.
Semua sibuk dengan suka dan dukanya. Dengan drama yang begitu banyak genrenya.

Sedang aku, hanya berdiamkah?

Bisa jadi begitu.

Namun, dalam kepalaku berkecamuk segala pemikiran-pemikiran yang terkadang sulit dimengerti oleh diriku sendiri. Dari mana asalnya? Tak tahu pasti.
Aku memendam. Aku tak hanya berdiam. Aku mengamati apa yang terjadi.
Dari sekian banyak wajah yang kutemui, diam-diam aku bertanya dalam hati. Apakah mereka tak seperti apa yang nampak itu? Sebab, diriku pun tak seperti apa yang kutampilkan. Mungkinkah mereka menangis seolah sengsara, tetapi sebetulnya bahagia, hanya saja mereka tak mampu menyadarinya? Atau justru mereka tersenyum seolah bahagia, namun menyimpan luka yang sakitnya tak terkira, sebab nanar ada di matanya. Ah, aku semakin bimbang.

Apakah aku, apakah kamu, apakah dia, sudah menjadi yang sebenarnya atau masih senang memendam dan menyembunyikan?

Sudahlah, tak apa jika memang kita masih belum dapat terbuka. Orang-orang banyak yang tidak peduli pula. Hanya beberapa jika ada.

Untuk kita, untuk segala yang tak dapat tersampaikan dengan sempurna, berterima kasihlah pada diri yang selalu berusaha menjadi teman setia di segala cuaca. Tangis dan tawa.

Mungkin tak ada teman untuk berbagi, tapi mampu mengatasinya seorang diri. Hebat.
Namun, di balik itu semua, mereka bukan tak peduli pada apa yang terjadi, mereka hanya sibuk menghadapi dirinya sendiri. Jangan salahkan mereka meskipun tak turut menyembuhkan luka dan menemani ketika berbagi bahagia.

Kita hanya manusia.

Tak bisa sempurna.








Untuk seseorang yang perlahan menghilang,

Selamat hari rabu, sudah lama sekali aku tak pernah mendapat kabar tentang keadaanmu. Di mana kamu hari ini? Di tempat yang jauh dari sini, ya?

Kamu menghilang, kita menjadi begitu asing. Aku tak tahu bagaimana lagi caraku agar bisa mengetahui bahwa kamu baik-baik saja hari ini.

Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu aman. Tiada yang menyakitimu seperti aku.

Semoga harimu menyenangkan. Oh, ya, apa yang kamu pikirkan tentang aku hari ini? Apa kamu pikir aku bahagia telah melepaskanmu? Jawabannya, tidak. Tidak.

Aku tak pernah sedikit pun ingin beranjak dari kamu. Tidak. Hanya saja aku harus dapat melindungimu, dari diriku. Aku tak ingin membuatmu terus bersedih karena bersamaku. Aku tak pernah berniat untuk meninggalkanmu.

Aku memutuskan pergi karena tak ingin terus menyakiti. Aku tak ingin keanehan sikapku membuatmu tersakiti. Aku bukan seperti mereka, yang dengan mudahnya mampu menunjukkan rasa cintanya. Aku tak pernah bisa seperti itu. Aku tak pernah bisa menjadi apa yang kamu mau. Aku tak ingin membuatmu berharap begitu banyak padaku, yang jelas-jelas tak mampu memberi sedikit pun.

Aku ingin kamu, hanya kamu, tetap kamu, selalu kamu.

Tapi aku sadar, kamu sudah tidak mau. Dan aku sudah tidak mempermasalahkan itu. Jika bukan kamu, mungkin seseorang yang bukan kamu akan mampu mengerti aku seperti yang kamu lakukan dulu.

Mungkin kamu kecewa pada keputusanku hari itu, tapi hanya itu yang aku mampu. Aku percaya bahwa di luar sana akan ada seseorang yang dapat mengerti kamu melebihi aku. aku percaya bahwa di luar sana ada orang yang akan setia menemanimu. Tak seperti aku.

Ini sudah kedua kalinya aku melakukan hal yang sama. Melepaskan orang-orang yang membuatku bahagia, hanya karena aku tak ingin membuatnya terluka.

Maaf yang tak tehingga untuk hal itu.
Aku tahu bahwa caraku salah. Tapi, hanya itu yang membuatku berhenti resah.
Bukan salahmu. Kamu tak pernah melakukan kesalahan apapun. Bagiku kamu sempurna.
Bukan pula aku tak punya rasa yang sama. Aku juga rasa, apa yang kamu rasa.
Hanya saja aku belum mampu mengendalikan kebebasanku, aku masih belum mampu bersepakat dalam suatu ikatan. Maaf.
Aku tahu hal itu menyakitimu. Tapi, aku juga menyakiti diriku sendiri.

Melepas genggaman tangan yang pernah erat,
Kemudian membangun sekat,
Lalu diujung kalimat,
Aku menyebutnya tamat.

Bodoh memang, namun sekarang aku mulai belajar untuk menghargai apa yang aku punya dan mulai membiasakan diriku dengan ikatan, agar kelak aku tak akan lagi mengecewakan seseorang.

Untuk kamu,
Terimakasih, sebab pernah datang.



Hilang

Tak pernah terdengar lagi orang menyebut namanya, apalagi mendengar suaranya.
Dia tidak di sini, tempat kami telah berbeda.
Dia dengan dunianya, aku pun di sini dengan duniaku.

Tentangku di hidupnya hanya tinggal sebuah nama dengan cerita, tak lebih. Namun, tentangnya di hidupku lebih dari itu. Entah mengapa aku selalu menganggap dia lebih dari seharusnya. Meski di mataku dia tak pernah lagi bercermin. Di telingaku, ia tak pernah lagi bersuara. Tapi di pikiranku, ia selalu berhasil menjadi sesuatu yang tak pernah kulupa.

Ingin sekali sehari saja tidak mengingatnya. Sayangnya, itu terlalu sulit.

Ia selalu muncul sesaat setelah aku memejamkan mata. Seolah dekat, namun tak pernah bertatap. Jauh, namun selalu ada.

Aku pikir ini gila.

Tapi aku terlalu berlebihan jika mengatakan ini gila, sebab di luar sana banyak orang yang mengalami hal serupa. Banyak temu palsu yang sengaja dihadirkan rindu di mimpimu. Begitu kan?

Bayangkan, jika ia terus menghantui tanpa pernah menemui.

Mungkin akan banyak sekali tulisan yang mewakili.

Semakin lama, semakin tak terkendali.

Entahlah. Aku heran, mengapa aku tak pernah bosan menjadikannya sebagai bahasan.

Harusnya aku mengerti bahwa sebanyak apapun tulisanku, tak pernah ada satu pun yang akan dia baca. Harusnya aku mengerti sebanyak apapun tulisanku, tak akan pernah membuatnya mengerti. Harusnya aku mengerti sebanyak apapun tulisanku, tak akan pernah membuatnya kembali.

Tak ingin memiliki, tapi ingin dia ada di sini.

Aku hanya ingin itu. Tapi kenapa harus serumit ini?

Entahlah. Kami telah berbeda.
Tak lagi satu.
Kami adalah dua berbeda
Yang melepas diri dari kata satu.










Sesuatu yang kau sebut utuh.

Kita terlalu.

Berlebihan.

“Aku setengah, sedang kamu tiga per empat.” Kataku.

Kamu tersenyum. “Bukankah itu tak masalah? Kita lebih dari penuh.”

“Oleh sebab itu, kita bermasalah.”

“Bagaimana bisa?”

“Sesuatu yang kurang, itu buruk. Yang seimbang, itu pas. Namun, kita lebih. Terlalu. Itu tidak baik.”

Aku berhenti berbicara.

Kamu melakukan hal yang sama. Kita hening.

Harusnya kamu tahu bahwa yang dibutuhkan di sini bukanlah siapa yang memberi lebih, melainkan yang saling melengkapi dengan porsi yang sama, agar tak terjadi ketimpangan. Jika aku satu per empat dan kamu tiga per empat, mungkin kita akan utuh, tapi aku takkan pernah merasa penuh. Begitu pun sebaliknya.

Berbeda apabila kamu setengah dan aku pun setengah. Biar tak ada yang merasa paling hebat diantara kita. Biar tak ada yang merasa kurang diantara kita. Biar kita cukup. Saling mengisi.

Dan bagiku kamu banyak kata terlalu.

Dalam warna pun begitu.
Kamu terlalu abu untuk aku yang ragu,
Kamu terlalu biru untuk aku yang pilu,
Kamu terlalu hitam untuk aku yang muram.
Jangan tambahkan bunga yang berguguran, sebab aku takkan berubah pikiran.
Kita banyak kata ‘terlalu’ sehingga sulit menyatu.

Berlebihan.
Jika abu, biru, hitam yang terlalu pekat membentuk gelap, apa yang bisa kudapat?

Sendu. Sedih.

Kelam.
Kita buram.

Bayangkan jika kamu memberikan warna-warna itu sesuai porsinya. Tidak terlalu gelap. Mungkin ketenangan yang akan kudapat. Namun, lagi-lagi kamu selalu memberiku yang ‘terlalu’ banyak.

Kita saling mengisi, namun kamu selalu mendominasi.

Tak utuh.
Sebab terlalu penuh.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

TEMUKAN SAYA

TERPOPULER

  • Film Pendek di Disney+ Hotstar yang Wajib Kamu Tonton!
  • Belanja Buku Online di Shopee Mizan Jakarta (mbcjakarta), Untung Besar!
  • Kotak Kenangan
  • Tentang Peter dan Wendy
  • Lazuardi: Mendekat
  • Lazuardi: Selesai
  • Untuk yang Tetap Memilih Sendiri
  • Raguku
  • 2521 dan Kesan Setelahnya
  • Cara Mengatasi Rasa Jenuh Saat Membaca

KATEGORI

  • #30DaysWritingChallange 10
  • Cerita 24
  • Cerita Bersambung 2
  • DAY 1 : Describe your personality 1
  • Lazuardi 2
  • Puisi 5
  • Serba-serbi Perbukuan 15
  • Tentang Film 5
  • Tentang Kehidupan 42
  • Ulasan Buku 18
Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
deefesef
Hi, Devi di sini! Menuliskan apa yang tidak akan pernah dia baca, juga menulis tentang berbagai rasa dan tanya, serta banyak hal lainnya.
Lihat profil lengkapku

ARSIP

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  Oktober (1)
      • Sang Alkemis—Mengembalikan Mimpi yang Sempat Hilang
  • ►  2023 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2020 (85)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (27)
    • ►  Agustus (16)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (9)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)
  • Beranda
  • Rangkaian Kata
  • Ulasan Buku

© - Devi Sofiyanti | Designed by OddThemes