Between Words | Devs







Abadi

Seseorang yang Kini Berada dalam Ketenangan.
Sebuah kerinduan yang akan selalu menghantui.

Untuk seseorang yang pernah kehilangan.

Tiada yang paling menyakitkan, selain kehilangan ia yang begitu kamu cinta.

Kilau baru datang mengusir segala mimpi buruk yang mengganggu tidurmu. Kamu beranjak dari tempat tidurmu, mencoba menepis ingatan-ingatan penuh pilu.

Kursi itu kosong, lalu kamu tersenyum.

Kamu membuatkan minuman hangat untuk dirimu, lalu duduk sendiri. Sepi.

Keheningan seolah menarikmu pada memori saat ia masih di sini.

Saat ia tersenyum ke arahmu setiap pagi datang, saat ia menyiapkanmu sarapan, saat ia mendengarkan ceritamu dengan tenang dan karenanya kamu senang. Kemudian teringat olehmu ketika suaranya begitu mendominasi di telingamu ketika kamu pulang menuju malam, ia mengkhawatirkanmu. Namun, semua itu sekarang hanya bisa dikenang.

Sesekali suaranya seolah mengajakmu berbicara, namun itu hanya khayalmu saja. Sesekali kamu melihat sosoknya tersenyum, tertawa, namun itu hanya bayangan semu saja. Setiap hari semua itu terus berulang. Tak peduli ketika matamu terpejam atau terbuka.

Kamu merindukannya, lebih dari sekedar rindu. Rindu yang tak dapat lagi berbuah temu.

Dapat selalu bertemu di mimpi adalah harapmu. Rindu yang paling sendu juga pilu, rindu abadi sepanjang waktu.

Ingin rasanya kembali menemuinya hanya untuk melihatnya tersenyum.

Meski inginmu lebih.
Kamu ingin bercerita padanya tentang mimpi-mimpimu, tentang orang-orang baru, tentang seseorang yang sedang kamu tunggu, tentang segala hal yang terjadi selepas ia tak lagi denganmu.
Bahkan terkadang kamu ingin memeluknya, karena hanya dia rumah di mana tidurmu lelap dalam dekapnya. Hanya dia, yang lain tak akan pernah mampu.

Bagaimana bisa rindu ini berakhir, sedang dalam dirimu terdapat darahnya mengalir. Darinya kamu terlahir. Dan kamu mencintainya tak akan pernah berakhir. Abadi.

Mencintainya, merindukannya, hingga tiba masanya untuk kamu menyusulnya ke sana.

Sesuatu yang kausebut Abadi.




Raguku


Untuk setiap kata yang tak mampu bersuara.

Semoga tulisan ini cukup mewakilimu untuk bercerita.

Mereka terus menghakimi, melabelimu bak seseorang yang hanya mementingkan diri sendiri. Namun, kamu juga tak dapat menyalahkannya. Sebab, kamu juga bersalah. Kamu juga enggan membuka diri untuk bercerita tentang segala sesuatu, yang pada akhirnya hanya membuatmu menjadi manusia yang begitu takut untuk percaya pada yang lainnya. Kamu terlalu rapat menyimpan segala benang kusut itu dalam kepalamu, bahkan hatimu saja kau abaikan ketika ia hendak memberi saran. Dan, kamu tahu itulah mengapa orang lain menyebutmu tak punya hati.

Tapi di sini, aku tidak akan terlalu menyudutkanmu. Aku mengerti bagaimana rasanya menyimpan segala sesuatu sendiri. Bukan tak percaya pada manusia lain yang selalu mengelilingi, hanya saja akan sangat menyakitkan jika kamu memutuskan untuk berbagi. Bagimu, cukup kamu yang merasakannya sendiri, tak ingin orang lain terbebani dengan jalan pikiranmu yang bahkan sulit kau selami.

Kamu hanya ragu.

Kamu ragu dengan apa yang terjadi. Kamu takut. Takut apa yang kamu jalani hanya sebatas imajinasi. Bahkan saat orang lain melihatmu bahagia, kamu sendiri tak pernah meyakini bahwa kebahagiaan itu nyata. Ketika kamu mulai menyadarinya, kamu kemudian ketakutan. Takut sebab semuanya hanya fana. Dan lagi-lagi kamu ragu; bahagiamu itu nyata atau tidak.

Pada akhirnya, kamu memilih untuk tidak merasakan kebahagiaan itu. Kamu memilih meninggalkannya. Tanpa sadar dengan begitu, kamu juga telah merampas kebahagiaan orang lain. Ya, orang yang menjadi sumber bahagiamu; orang yang juga bahagia bersamamu. Kamu meninggalkannya, sebab kamu teralu takut bahagia. Mungkin hal itu baik bagimu, tapi tidak untuk orang lain.

Hingga kemudian setelah kamu menyuruhnya pergi, keraguan itu mulai bisa terkendali. Kamu mulai dapat menerima bahwa segala sesuatu itu tiada yang abadi. Kamu mulai mencari ke mana dia beranjak setelah kamu menyuruhnya angkat kaki. Namun, dia tak dapat kau jangkau lagi.

Sayup-sayup kau dengar bahwa dia mulai ragu.

Ragu dengan dirimu, seperti apa yang kamu rasakan terhadapnya dulu.

Lalu akhirnya, kamu hanya dapat terpaku.
Namun, sesaat kemudian menyuarakan pilu yang menyelimutimu,

“Perihal keraguanku yang membuatmu ragu.
Keraguan untuk terus bertualang atau pulang. Bimbang diantara harus bersama bersenang-senang atau sendirian mengenang.”

Katamu.

Mungkin hanya itu yang mampu kamu sampaikan.

Kamu boeh bernapas lega. Ragumu kini telah tersuarakan.



Mendengarkan

Aku mendengarkanmu. Ya, mendengarkan.

Aku mendengarkanmu, bahkan ketika kamu tak mampu menyuarakan kata.

Aku mendengarkanmu, jangan khawatir. Aku memang terkadang tak langsung menanggapi keluh kesahmu, tapi percayalah aku selalu mendengarkanmu. Kamu mungkin merasa aneh, tapi bukan kah itu yang kamu perlu? Seseorang yang mendengarkan tanpa menghakimi?  Aku tahu bahwa yang kamu butuhkan bukanlah sebuah jawaban atau sekedar basa-basi belaka, di dengarkan saja sudah lebih dari cukup bagimu.

Aku suka sekali cerita-ceritamu. Harus kamu ketahui bahwa tak merespon bukan berarti tak peduli, aku hanya ingin mendengarkan, tanpa memberi penilaian. Telingaku tak pernah lelah untuk menyambut setiap kata yang kamu ucapkan. Aku menikmatinya, oleh sebab itu tak ada waktu bagiku untuk memikirkan respon mengenai segala apa yang kamu katakan. Bukankah lebih baik aku mendengarkanmu dengan menyelami setiap emosi yang kamu lisankan daripada harus siap siaga memberi respon, tanpa benar-benar paham. Karena kamu sedang bercerita bukan bertanya. Mendengarkan adalah tugasku yang utama.

Aku suka sekali binar matamu ketika kamu bercerita tentang kebahagiaan, tapi aku juga tak kuasa melihat matamu berkaca-kaca karena kesedihan. Sebisa mungkin aku ingin kamu bercerita dengan nyaman, meski terkadang kamu memiliki banyak beban. Namun, berbagilah jangan sungkan.

Aku berkata demikian karena aku juga pernah merasakan. Aku bisa merasakan ketika seseorang mendengarkanku dengan penuh perhatian, dan ketika seseorang mendengarkan hanya untuk memberi jawaban. Jujur, aku lebih nyaman ketika orang tersebut memberiku perhatian tanpa jawaban, dibandingkan harus mendapatkan jawaban tapi ia tak sepenuhnya mendengarkan.

Mungkin opinimu takkan sama denganku, sebab setiap manusia memiliki jalan pikiran yang berbeda. Namun, inilah kejujuran yang dapat aku ungkapkan, semoga kamu dapat menerimanya dengan penuh pengertian.

Jangan pernah merasa diabaikan, aku di sini untuk mendengarkan.

Kamu harus tahu, mendengarkanmu aku tak pernah dilanda bosan.




Setiap orang memiliki mimpi. Bahkan banyak sekali mimpi.

Mimpi-mimpi itu menunggu untuk diperjuangkan dan harus diwujudkan. Ada yang memang dapat terwujud dan ada pula yang hanya disimpan abadi sebagai impian. Penyebabnya beragam, bisa dari diri kita sendiri atau bahkan dari dunia luar.  Banyak mimpi-mimpi yang gugur karena campur tangan orang lain. Sampai pada akhirnya, mimpi itu takkan pernah terjadi. Begitu banyak sekali dari kita yang tega membunuh impian diri sendiri, bahkan mimpi orang lain.

Aku pun pernah meragukan mimpiku sendiri, mencoba membunuhnya. Namun, mimpiku lebih kuat dari raguku, sehingga semakin kucoba melenyapkannya, semakin ia tampak nyata. Hal itulah yang membuatku mengurungkan niat untuk membuatnya tiada, kubiarkan ia tetap ada. Dan aku kembali memperjuangkannya.
Aku tak berani membunuh mimpiku sendiri. Oleh sebab itu, tidak ada hak bagiku untuk menyuruhmu menghapus mimpimu. Sesuatu yang sangat ingin kau raih.

Dulu, aku meragukanmu. Lebih tepatnya meragukan mimpimu. Karena apa yang ada di dirimu, pastilah akan jadi bagian dari aku. Namun, perlahan kamu membuatku menyadari bahwa mimpimu patut untuk aku apresiasi. Dia membuatmu lebih besinar, dan aku suka sinarnya. Terima kasih telah membunuh raguku tentang mimpimu.
Mulai sekarang aku mendukungmu. Silakan kamu kejar mimpimu, raih dia, dan berbahagialah. Maaf, sebab aku pernah meragukannya. Maaf, sebab aku mengurungmu dalam ruang sempit, sementara di dunia luar mimpimu sedang menunggu. Selama ini aku hanya memberimu jendela, sebagai tempat untukmu agar dapat tetap melihat mimpi-mimpi itu. Namun, kini aku sadar bahwa yang kamu butuh adalah pintu yang dapat mengantarkanmu menuju dunia luar untuk mengejarnya, meraihnya, dan berbahagia sebab berhasil mendapatkannya.

Dan setelah kamu mendapatkan itu semua, kamu bisa memilih untuk tetap berkelana di luar sana meraih mimpi yang lainnya atau pulang ke ruang sempit. Aku berharap kamu memilih untuk tetap di luar sana. Kamu bebas di sana, tiada lagi tembok pembatas.

Terima kasih, sebab pernah bertahan di ruang sempit yang sempat merenggut kebebasanmu dalam mengejar mimpi.
Terima kasih, pernah dengan sukarela dipenjara. Selamat berjuang, kamu layak berbahagia bersama mimpimu di luar sana. Maaf, aku tak dapat mengikutimu, dunia kita berbeda. Aku tak ingin lagi memaksa. Sampai jumpa!
Untuk diri kita di masa depan,


Hari ini tanggal tujuh bulan Februari di tahun 2019, aku menulis surat ini untuk kita. Untuk aku yang menulis dan untuk kamu, siapa pun yang membaca.

Kemarin dan hari ini mungkin kamu akan mengalami banyak sekali kesulitan, tapi kehidupan yang sesungguhnya belum juga dimulai. Tahun ini adalah tahun terakhirmu untuk bermalas-malasan. Tahun ini adalah awal dari segala kesempatan yang akan datang.
Nanti suatu hari jika kamu membaca tulisan ini lagi, kamu akan menyadari sejauh mana diri ini mampu berlari, pencapaian apa saja yang telah kau raih, siapa saja yang menemanimu melewati hari-hari.
Kau boleh gagal berkali-kali, tapi bangkitmu harus lebih banyak lagi. Mungkin hari ini kamu masih belum menentukan masa depanmu. Bahkan kau bingung akan melangkahkan kaki kemana, tujuan hidup saja kau tak punya. Yang kau tahu adalah bahwa kau bernafas dan dapat membuka mata. Di setiap hari-hari kau selalu bertanya tentang kemana hidup akan mengalirkanmu untuk bermuara.

Saat menulis kata-kata ini, ketahuilah bahwa aku sedang mengalami banyak kegagalan. Hanya saja aku ingin membuat diriku lebih tenang, walau tahu ini hanya akan sedikit menenangkan. Berulang bayangan tentang kegagalan melintas di dalam benakku. Sejenak aku mengutuk diriku sendiri. Berkata bahwa ia adalah manusia bodoh dan lemah. Tidak memiliki kemampuan apapun, tidak memiliki kelebihan apapun. Hingga kemudian aku tersadar bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Hanya saja aku yang belum menyadari apa yang aku miliki, hanya saja aku yang kurang bersyukur dalam hidup yang kujalani.
Kegagalan itu perlahan kutepis, aku tak boleh larut di dalamnya terlalu lama lagi. Itulah sebabnya aku menulis kata-kata ini. Sebab aku bukanlah orang yang pandai bercerita tentang segala rasa. Mungkin dengan menuliskan hal ini tidak akan dapat membuat masalahku selesai dan kegagalanku berubah jadi keberhasilan. Namun setidaknya, dengan terciptanya tulisan ini, aku ingin menyemangati diriku sendiri, dan barangkali jiwa lain yang juga sedang di posisi ini.

Mari kita lanjutkan kembali mimpi yang sempat terhenti karena kegagalan yang tak kita kehendaki, masih banyak jalan yang menunggu untuk kita pijaki. Jika gagal hari ini, jika kecewa hari ini, jika sedih hari ini, masih ada esok hari yang menanti. Jangan menyerah hari ini, teruslah berlari kejar segala mimpi sampai Tuhan memanggilmu untuk kembali.


Salam bahagia, untuk semua yang menyempatkan waktunya membaca semua kalimat ini.




INSPIRASI?


Dalam setiap kalimat yang tertulis pasti ada sesuatu yang mengilhami tulisan tersebut.

Dan yang mengilhami setiap untaian kata yang saya rangkai adalah kamu. 

Saya kira tanpa menyebutkan nama atau inisialnya, jika dia membaca tulisan ini pasti ia akan tahu bahwa dirinya yang saya maksud.
Namanya memang sudah jarang sekali saya sebut, tapi itu bukan berarti dia tak lagi menginspirasi. Dia akan selalu menjadi alasan untuk setiap kata-kata yang saya tulis.
Serupa matahari di kala malam. Mungkin banyak dari kita lupa bahwa cahaya bulan yang kita tatap merupakan sinar yang bersumber dari sang mentari. Dia memang tak nampak ketika malam, namun bukan berarti ia tak lagi berperan.
Hari terus berlalu, ia semakin terlupakan. Orang-orang di sekeliling saya tak lagi membahas tentangnya, sebab sedikit sekali yang mengenalnya di sini. Namun saya tahu, dia akan selalu ada. Tapi ternyata saya salah menerka, karena pada akhirnya ia menghilang juga. Lingkungan kami sekarang telah berbeda, orang-orang yang biasa kami temui berbeda pula.

Untuk kamu yang telah menginspirasi, saya ucapkan terimakasih banyak untuk itu. Tanpa kamu mungkin saya tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya bahagia ketika berhasil menyelesaikan sebuah tulisan. Memang bukan hanya kamu yang ada dalam cerita saya, tapi harus kamu tahu bahwa kamu telah membuat saya menjadi manusia yang lebih baik. Kamu telah mempertemukan saya dengan dunia yang selama ini saya dambakan.

Oh ya, hari ini di sini hujan. Kau tahu bukan bahwa hujan mengundang rindu? Dan kebetulan sekali saya sedang rindu. Rindu bagaimana rasanya untuk kembali menulis, sebab sudah lama hal itu saya tinggalkan. Saya merasa kehilangan inspirasi saat hari-hari berlalu dan menjauhkanmu dari saya. Saya merasa kehilangan arah, bahkan lupa akan tujuan. Beruntungnya ada saja orang-orang tertentu yang datang dan mengatakan pada saya untuk tidak selalu bergantung kepada 'orang lain'. Hal ini secara tak langsung mengingatkan akan tujuan yang pernah terlupa sebelumnya. Mereka memberi semangat, menghadirkan kembali harapan saya. Tujuan menulis saya sebelumnya adalah untuk berbagi. Entah berbagi hal yang menyenangkan atau mungkin sebaliknya. Setelah kamu ada, seluruh ilham banyak mengalir dari kamu. Oleh karena itu, ketika kamu jauh dari hidup saya, cerita yang saya tulis terasa tak lagi bermakna. Kali ini saya kembali menulis, meskipun saya sendiri tak tahu apa yang sedang saya tulis. Saya hanya tahu bahwa saya sedang menceritakan kamu kepada dunia. Meskipun seseorang telah mengubah cara pandang saya dalam menemukan inspirasi dan mengatakan agar saya tak lagi bergantung pada orang lain, namun tetap saja kamu yang mengilhami lahirnya tulisan ini. Mungkin memang saya tidak dapat lagi menemukan inspirasi dari hal lain, atau kamu yang terlalu hebat dalam menarik pikiran saya untuk memikirkan setiap detail unik dari dirimu.

Teruslah menjadi manusia hebat yang memotivasi saya untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kamu terlalu unik untuk tidak saya bagikan pada dunia. Seluruh dunia harus tahu bahwa ada makhluk unik yang dalam ketiadaannya pun ia mampu menjadi inspirasi.

Mungkin sebagian orang bingung apa bentuk sebenarnya dari tulisan ini. Apakah saya sedang menceritakan seseorang pada dunia atau justru sedang menulis surat terbuka untuknya. Sebab di sini saya menggunakan berbagai sudut pandang. Di satu sisi saya mungkin tengah menceritakan seseorang, namun di sisi lain saya seolah sedang berbicara satu arah pada orang tersebut. Tak usah kaupikirkan, saya hanya ingin berbagi cerita tentangnya.

Akhir kata, ada sepenggal kalimat untuknya; kamu terlalu unik untuk terlupakan, sampai bertemu lagi di hari depan!


Bahkan potret ini pun terinspirasi oleh dia.

You're Unique.

Hallo, guys!
Aku ingin sedikit menuliskan kata-kata untuk kalian semua.
Untuk kalian semua di luar sana, kalian itu unik. Jangan pernah membandingkan diri kalian dengan orang lain.
Okay, kenapa aku nulis kayak gini? Jawabannya adalah karena banyak dari kita yang terlalu terobsesi pada sesuatu yang sedang menjadi tren. Bahkan ironisnya terkadang kita melakukan apa yang sangat bertolak belakang dengan diri kita hanya agar terlihat sama dengan yang lain. Hey, mari kita membuka mata! Menjadi berbeda bukan berarti buruk. Berbeda membuat kita unik. Sayangnya terlalu banyak dari kita yang takut untuk menjadi berbeda, takut dicap aneh.
Apa salahnya menjadi berbeda? Mari menjadi diri sendiri. Cintai diri sendiri.
Cintai diri sendiri tanpa berusaha menjadi sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Sang Pencipta. Kita hanya perlu menjadi unik, menjadi versi terbaik dari diri kita. Mengejar kesempurnaan hanya membuatmu merasa kurang, mari bersyukur atas apa yang kita miliki.
Kebahagiaan datang bukan karena kita sempurna dan sama dengan yang lainnya, kebahagiaan datang apabila kita bersyukur atas segalanya dan menjadi versi terbaik dari diri kita.

Cintai dirimu, cintai hidupmu, bahagia akan selalu bersamamu!
Pict : Pinterest 
U don't need to be perfect cause u're unique!
Aku akan memberitahumu sebuah kisah tentang seorang gadis penyuka cerita bernama Bukuvella dan seorang lelaki pelukis senja, Lukas Kuas Saputra, lewat surat-surat yang akan kutulis di bawah ini.

Surat Pertama :
Kamu ingin menyapanya lewat kata
Walaupun kamu tahu takkan mungkin ia baca
Tapi lembar-lembar ini akan tetap bercerita
Tentang sorot mata yang begitu magis
Tentang senyum yang merekah tipis
Kamu gembira melihatnya melukis
Namun juga merasa teriris,
mengingat dia takkan mungkin membaca apa yang kamu tulis.


Surat Kedua :

Dia diam di sana, dunianya terfokus pada kanvas
Di belakangnya kamu mencoba mengamati
Kamu tulis semua warna yang ia gunakan
Sepertinya kamu mulai hafal warna-warna kesukaanya
Saat dia berbalik ke arahmu
Kamu menyerahkan catatan itu padanya
Kamu takut keliru mengartikan sesuatu tentangnya
Dengan halus dia menolaknya
Dan berkata bahwa dia tak mampu membacanya
Menurutnya kata-kata terlalu rumit untuk dipahami
Dia bahkan tak ingin mempelajari
Hingga dia memilih tidak tahu sama sekali.

Surat Ketiga :

Kamu adalah buku yang terbuka lebar
Sementara dia seorang buta huruf
Semuanya percuma saja
Kisahmu takkan mampu ia baca
Yang ia tahu tentangmu hanyalah satu
Bahwa kau adalah sebuah buku
Dan ia tak berniat belajar membaca
Karena baginya hal itu tiada guna
Ia terobsesi pada kanvas penuh warna
Bukan memahami kata-kata.



Ini hanya sebagian dari suara-suara mereka yang mampu kutulis. Aku masih ingin bercerita tentang mereka, sebab kisah mereka belum usai. 
Thx sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan singkat ini :)


Kuningan, 2018


Ini adalah rangkaian kata yang sok dramatis dari seseorang yang kebetulan sok puitis. Judul, foto dan isi mungkin kurang sesuai, tapi maklumi saja ya:)))) 



Beberapa dari kita suka membaca hanya karena ia menemukan dirinya dalam sesuatu yang ia baca. 
Mungkin aku salah seorang dari mereka, menyukai kata-kata karena kurasa aku adalah apa yang tertulis di sana. 
Dari kata-kata yang kubaca itu pula, aku menemukan banyak hal yang pernah terjadi, membaca seolah mengembalikan memori masa yang telah jauh berada di belakang sana sementara aku terus berlari. 
Membaca terkadang serupa membuka rahasia tentang masa yang telah lalu. 
Dari membaca terkadang kita dapat memahami mengapa kita bisa berada di tempat yang kita pijak detik ini dan hal-hal yang ada di hidup kita kini. 
Membaca juga membuatku merasa dimengerti, kata-kata tak bosan selalu mewakili setiap perasaan ini. 
Banyak orang menganggap bahwa membaca adalah kegiatan yang membosankan, tapi dari membaca kita dapat menemukan diri kita. 
Dan dari kata-kata kita dapat menemukan kita.
Jika merasa tak dipahami membacalah. Tak harus membaca hal-hal yang membosankan untukmu, cukup baca apa yang membuatmu mengenal dirimu, apa yang mewakili kamu. 
Seperti halnya aku, aku terkadang membaca hanya untuk memahami diriku sendiri hingga akhirnya sekarang aku tersadar bahwa diri ini telah begitu banyak kehilangan hal-hal yang berarti. 
Ketika membaca kita terkadang akan menemukan kata-kata yang pernah mewakili kita di masa yang telah lalu, semula semuanya terasa sangat nyata sampai pada akhirnya kita berhenti di akhir kalimat dan menyadari bahwa semuanya hanya pernah terjadi dan sekarang semua itu tak ada lagi. 

Dan untuk yang tak bertahan hingga kini, sekarang kamu hanya hal asing yang menyimpan begitu banyak cerita. Satu hal yang harus kamu tahu, aku tak bosan untuk terus membaca kata-kata yang mengingatkanku padamu.

Tulisan yang kita baca mungkin berbeda, tapi langit kita akan selalu sama. 

Kuningan, 2017

Bericara tentang buku.

Hello, how are you?

Di sini aku bakal share pengalaman membaca Stories for Rainy Days vol. II by Naela Ali.

Buku ini itu buku hadiah ulang tahun yang ke tujuh belasss! Gak ada yang nanya sih, tapi ya ngasih tau aja. Btw, thx my brother, you're my best captain Hihiii.

Okay, buku ini langsung jadi buku favorite! Why not? Quotes-nya manis-manis dan ngena banget ditambah ilustrasinya yang cantik. Dijamin kalian langsung jatuh cinta pada saat pertama kali liat buku ini!!!
Soal harga sih emang lumayan karena bukunya hard cover dan ukurannya imuuut. Buku ini juga cocok banget kalo buat kado ulang tahun atau kenang-kenangan buat sodara, sahabat, dan dia. Heheee.

Dan yang membuat tambah cinta sama buku ini adalah...

Quotes yang ini :

Mr. Spaceman was floating
Trying to find his home
But he couldn't
He was trapped in a space
Of uncertainties

Dan one more...

I want to live in a house made of books.
I want to sleep in a room smells like old papers.

Gimanaaa? Udah jatuh cinta sama buku ini?

Thx Naela Ali sudah membuat ilustrasi dan quotes yang manis❤

Yang belum punya, bisa segera beli karena meminjam berbeda rasanya dengan memiliki. So Let it yours!!!

Ini dia penampkannya





Postingan Lebih Baru Beranda

TEMUKAN SAYA

TERPOPULER

  • Film Pendek di Disney+ Hotstar yang Wajib Kamu Tonton!
  • Belanja Buku Online di Shopee Mizan Jakarta (mbcjakarta), Untung Besar!
  • Kotak Kenangan
  • Tentang Peter dan Wendy
  • Lazuardi: Mendekat
  • Lazuardi: Selesai
  • Untuk yang Tetap Memilih Sendiri
  • Raguku
  • 2521 dan Kesan Setelahnya
  • Cara Mengatasi Rasa Jenuh Saat Membaca

KATEGORI

  • #30DaysWritingChallange 10
  • Cerita 24
  • Cerita Bersambung 2
  • DAY 1 : Describe your personality 1
  • Lazuardi 2
  • Puisi 5
  • Serba-serbi Perbukuan 15
  • Tentang Film 5
  • Tentang Kehidupan 42
  • Ulasan Buku 18
Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
deefesef
Hi, Devi di sini! Menuliskan apa yang tidak akan pernah dia baca, juga menulis tentang berbagai rasa dan tanya, serta banyak hal lainnya.
Lihat profil lengkapku

ARSIP

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  Oktober (1)
      • Sang Alkemis—Mengembalikan Mimpi yang Sempat Hilang
  • ►  2023 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2020 (85)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (27)
    • ►  Agustus (16)
    • ►  Juli (7)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (9)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2019 (13)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (3)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)
  • Beranda
  • Rangkaian Kata
  • Ulasan Buku

© - Devi Sofiyanti | Designed by OddThemes